Publikasi.unmuhbarru.ac.id, Barru – Muhammadiyah sebagai gerakan pembaruan Islam (tajdid) telah lama menapakkan kakinya di tanah Sulawesi Selatan, sebuah wilayah yang sarat dengan kekayaan adat dan falsafah hidup suku Bugis-Makassar. Perjumpaan antara spirit keagamaan yang bercorak murni dan dinamis dengan etnisitas lokal yang teguh tidak melahirkan benturan destruktif, melainkan sebuah sintesis kebudayaan yang saling menguatkan. Di tengah ruang kultural inilah, Muhammadiyah hadir bukan untuk mencabut akar tradisi, melainkan memberikan arah yang memajukan melalui jalur dakwah dan sosial-kemasyarakatan.
Salah satu manifestasi paling nyata dari bertemunya dua kekuatan ini adalah menjamurnya Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM) di seantero jazirah Sulawesi Selatan. Dari Makassar di ibukota sampai ke Luwu. Bahkan kabupaten seperti Sinjai, berdiri megah dua perguruan tinggi. Begitu pula di Gowa, sebuah institut yang dikelola Aisyiyah.
Institusi pendidikan tinggi yang didirikan oleh Muhammadiyah di wilayah ini bukan sekadar ruang transfer ilmu pengetahuan semata, melainkan menjadi laboratorium sosial tempat nilai-nilai Islam berkemajuan berdialog secara intens dengan lokalitas. Lembaga-lembaga ini tumbuh subur di kota hingga pelosok daerah, mencerminkan bagaimana etos kerja dan semangat juang masyarakat setempat menyatu dengan visi pendidikan persyarikatan.
Pendahuluan ini menegaskan bahwa PTM di wilayah Bugis-Makassar mengemban misi ganda yang sangat strategis. Di satu sisi, mereka memikul tanggung jawab akademis dan teologis untuk melahirkan generasi yang murni secara akidah dan unggul secara intelektual. Di sisi lain, mereka menjadi penjaga gawang kebudayaan yang merekonstruksi identitas kebugisan dan kemakassaran agar tetap relevan di era modern, sehingga spirit keagamaan dan karakter etnisitas dapat berjalan beriringan demi kemajuan peradaban.
Perguruan Tinggi Muhammadiyah di Tanah Bugis-Makassar
Perjumpaan awal Muhammadiyah dengan masyarakat Bugis-Makassar didasari oleh adanya titik temu (kalibrasi) antara nilai keislaman dan falsafah hidup lokal. Suku Bugis-Makassar dikenal memegang teguh prinsip Siri’ na Pesse (harga diri dan solidaritas/empati) serta Asituruseng (kerjasama). Ketika Muhammadiyah membawa gagasan tentang kemandirian, amal saleh yang terorganisasi, dan penegakan martabat manusia melalui pendidikan, masyarakat lokal melihat hal tersebut sebagai penguatan terhadap prinsip Siri’ mereka. Islam tidak lagi dipandang sebagai dogma yang berjarak, melainkan energi penggerak yang klop dengan karakter asli mereka yang pemberani dan teguh pendirian.
Dalam perkembangannya, Muhammadiyah melakukan strategi “inkulturasi” yang arif di Sulawesi Selatan. Alih-alih memberangus tradisi lokal secara frontal, para tokoh Muhammadiyah gelombang awal di tanah ini menggunakan pendekatan yang menghargai struktur sosial setempat, termasuk merangkul kaum bangsawan (Arung) dan pemuka adat. Pendekatan ini melunakkan resistensi kultural dan mengubah kecurigaan menjadi penerimaan yang hangat. Tradisi luhur seperti Pangngaderreng (sistem norma adat) yang sejalan dengan akhlak Islam dipertahankan, sementara praktik-praktik yang berbau takhayul dan khurafat dikikis secara perlahan melalui edukasi yang persuasif.
Keberhasilan dialog kultural ini kemudian melahirkan transformasi besar dalam bentuk pendirian institusi pendidikan. Muhammadiyah menyadari bahwa untuk mengakar kuat di tanah Bugis-Makassar, dakwah lisan harus diwujudkan dalam bentuk amal nyata (amal usaha). Maka, mulailah dirintis sekolah-sekolah yang kemudian berevolusi menjadi universitas, institut, dan sekolah tinggi yang tersebar di berbagai daerah, seperti Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar, Unismuh Parepare, Universitas Muhammadiyah Palopo, hingga PTM di Bone, Sinjai, Barru, Palopo, Enrekang, Sidenrang Rappang, dan Bulukumba. Kehadiran kampus-kampus ini menjadi penanda beralihnya pusat peradaban dari pola tradisional ke modern.
Etnisitas Bugis-Makassar yang terkenal dengan etos Passompe (pelaut/perantau) turut mewarnai karakter Perguruan Tinggi Muhammadiyah di wilayah ini. Karakter pengembara yang tangguh, adaptif, dan berani mengambil risiko ini diserap ke dalam iklim akademik kampus. Mahasiswa PTM di Sulawesi Selatan dididik untuk tidak hanya jago di kandang sendiri, tetapi juga memiliki mentalitas global yang siap merantau dan membawa perubahan di mana pun mereka ditempatkan. Nafas Islam berkemajuan yang ditiupkan Muhammadiyah berkelindan erat dengan mentalitas petualang yang pantang menyerah ini.
Lebih jauh lagi, PTM di wilayah Bugis-Makassar berhasil mengintegrasikan nilai kearifan lokal ke dalam kurikulum dan budaya organisasinya. Konsep Tellu Cappa (Tiga Ujung: ujung lidah/diplomasi, ujung keris/keberanian, dan ujung kemaluan/kehormatan) yang legendaris dalam falsafah Bugis dirumuskan kembali dalam bingkai nilai keislaman (AIK/Al-Islam dan Kemuhammadiyahan). Ujung lidah bermutasi menjadi kecakapan intelektual dan komunikasi dakwah, ujung keris menjadi ketegasan dalam menegakkan keadilan, dan ujung kemaluan menjadi komitmen mutlak terhadap integritas moral dan spiritualitas.
Di ranah sosial-ekonomi, Perguruan Tinggi Muhammadiyah di Sulawesi Selatan bertindak sebagai mesin penggerak mobilitas vertikal bagi masyarakat lokal. Melalui akses pendidikan tinggi yang inklusif, anak-anak petani, nelayan, dan pekerja dari berbagai pelosok daerah Bugis-Makassar dapat mengenyam pendidikan berkualitas. Hal ini memutus mata rantai kemiskinan dan mencetak kelas menengah baru yang religius sekaligus profesional. PTM tidak hanya melahirkan sarjana, tetapi juga melahirkan kader-kader bangsa yang memimpin instansi pemerintahan, sektor swasta, dan lembaga sosial.
Secara kultural dan strategis, eksistensi PTM di tanah Bugis-Makassar memperkokoh posisi Sulawesi Selatan sebagai salah satu pilar utama kekuatan Muhammadiyah di kawasan Indonesia Timur. Kampus-kampus ini menjadi pusat pemikiran Islam moderat yang membentengi masyarakat dari arus radikalisme sekaligus sekularisme ekstrem. Melalui sinergi yang apik antara spirit keberagamaan yang inklusif dan identitas etnisitas yang kuat, Perguruan Tinggi Muhammadiyah membuktikan bahwa lokalitas dan modernitas keagamaan bukan dua hal yang harus saling meniadakan, melainkan bisa menari bersama dalam harmoni.
Penutup: Merajut Masa Depan Peradaban yang Berkemajuan dan Berakar Budaya
Sebagai penutup, Perguruan Tinggi Muhammadiyah di tanah Bugis-Makassar adalah potret sukses dari sebuah perkawinan ideologis dan kultural. Spirit keberagamaan Islam berkemajuan yang dibawa oleh Muhammadiyah tidak datang sebagai penjajah kebudayaan, melainkan sebagai kawan dialog yang menyuntikkan energi pembaruan ke dalam tubuh etnisitas lokal. PTM telah berhasil menjadi wadah di mana nilai-nilai luhur Islam dan falsafah hidup Bugis-Makassar dilebur menjadi sebuah kekuatan kolektif yang mampu melahirkan manusia-manusia unggul, berintegritas, dan tangguh menghadapi tantangan zaman.
Menatap masa depan, tantangan PTM di wilayah ini adalah menjaga agar api dialektika antara agama dan budaya ini tidak padam di tengah gempuran globalisasi. Kampus-kampus Muhammadiyah harus terus konsisten merawat nilai kearifan lokal seperti Siri’ na Pesse di dalam etos akademiknya, sembari terus memacu inovasi teknologi dan sains. Dengan tetap berakar pada bumi etnisitas Bugis-Makassar dan menjulang tinggi ke langit spirit keagamaan yang mencerahkan, Perguruan Tinggi Muhammadiyah akan terus menjadi suluh peradaban yang utama di Indonesia Timur.

