Tionghoa (ISW)

Tionghoa Indonesia Muslim dan Kristen: Temuan Awal Studi Kasus

Publikasi.unmuhbarru.ac.id, Jakarta – Keberadaan komunitas Tionghoa di Indonesia sering kali dilihat melalui lensa yang seragam, padahal dinamika internal mereka sangat kaya dan multidimensional. Salah satu aspek yang paling menarik untuk dicermati adalah keragaman orientasi keagamaan, khususnya antara kelompok Tionghoa Muslim dan Tionghoa Kristen. Kedua kelompok ini merepresentasikan bagaimana identitas etnisitas dan keyakinan spiritual saling berkelindan, sekaligus menantang stereotip lama yang cenderung melekatkan etnis Tionghoa secara eksklusif pada agama tradisional leluhur seperti Konghucu, Buddha, atau Taoisme.

Dalam konteks sejarah dan sosiologi imigrasi, adopsi agama Islam dan Kristen oleh warga Tionghoa di Indonesia memiliki akar yang panjang dan kompleks. Di satu sisi, Tionghoa Muslim memiliki jejak historis yang kuat bahkan sejak era penyebaran Islam awal di Nusantara oleh Wali Songo, yang kemudian mengalami revitalisasi pasca-Orde Baru melalui organisasi seperti PITI (Persatuan Islam Tionghoa Indonesia). Di sisi lain, Tionghoa Kristen—baik Protestan maupun Katolik—mengalami pertumbuhan yang signifikan seiring dengan dinamika politik sosioreligius, terutama ketika regulasi politik masa lalu mendorong penegasan identitas keagamaan yang diakui secara resmi oleh negara.

Artikel ini menyajikan sebuah studi kasus dan temuan awal mengenai bagaimana komunitas Tionghoa Muslim dan Kristen di Indonesia berada dalam ruang publik, membangun relasi antariman, serta menegosiasikan identitas ganda mereka. Sebagai sebuah eksplorasi awal, pembahasan ini berfokus pada titik temu, tantangan kultural, serta kontribusi sosiopolitik kedua kelompok ini dalam memperkaya narasi pluralisme di Indonesia. Melalui pendekatan kualitatif terbatas, temuan ini diharapkan dapat membuka ruang diskusi yang lebih mendalam mengenai inklusivitas dan koeksistensi damai.

Dinamika Identitas dan Ruang Dialektika Tionghoa Muslim-Kristen

Temuan awal dari studi kasus ini menunjukkan bahwa proses konversi dan adopsi agama, baik Islam maupun Kristen, di kalangan etnis Tionghoa tidak serta-merta mencabut akar budaya leluhur mereka. Sebaliknya, yang terjadi adalah proses hibridasi budaya yang sangat cair. Di kalangan Tionghoa Muslim, perayaan seperti Imlek tetap dijalankan dengan penyesuaian nilai-nilai islami, misalnya mengganti ritual doa leluhur menjadi doa syukur serta ajang silaturahmi keluarga. Fenomena serupa juga terlihat jelas pada komunitas Tionghoa Kristen, di mana simbol-simbol kultural Tionghoa kerap diintegrasikan ke dalam arsitektur gereja maupun liturgi kontekstual.

Dalam ranah sosial, studi kasus ini mengidentifikasi adanya perbedaan sekaligus persamaan dalam cara kedua komunitas ini merespons stigma minoritas ganda (double minority). Warga Tionghoa Kristen sering kali menghadapi tantangan sebagai minoritas dari segi etnis sekaligus agama di Indonesia. Sementara itu, Tionghoa Muslim berada pada posisi unik: mereka adalah bagian dari mayoritas secara agama (Muslim), namun tetap menjadi minoritas dari segi etnisitas. Posisi “jembatan” yang dimiliki oleh Tionghoa Muslim ini menjadi temuan menarik, karena mereka kerap berperan sebagai mediator kultural antara masyarakat pribumi Muslim dan komunitas Tionghoa non-Muslim.

Relasi antara kelompok Tionghoa Muslim dan Tionghoa Kristen dalam lingkup keluarga besar juga menunjukkan kedewasaan beragama yang tinggi. Berdasarkan pengamatan awal, dalam satu keluarga inti Tionghoa, sangat jamak ditemukan adanya perbedaan keyakinan yang kontras antara Islam dan Kristen. Ketika perayaan hari besar keagamaan seperti Idul Fitri maupun Natal tiba, ruang domestik berubah menjadi arena pembuktian toleransi yang tulus. Konflik-konflik kecil yang muncul umumnya lebih bersifat kultural terkait pembagian warisan atau tata cara pemakaman leluhur, bukan perselisihan teologis yang tajam.

Secara institusional, baik Tionghoa Muslim maupun Kristen telah mendirikan berbagai wadah pergerakan yang aktif dalam kegiatan filantropi dan kemanusiaan. Komunitas Tionghoa Kristen bergerak melalui jaringan yayasan pendidikan, rumah sakit, dan lembaga penanganan bencana. Di sisi lain, masjid-masjid berarsitektur Tionghoa yang dikelola komunitas Muslim Tionghoa kini menjamur di berbagai kota besar, berfungsi sebagai pusat dakwah yang inklusif sekaligus ruang pemberdayaan ekonomi masyarakat tanpa memandang latar belakang etnis.

Namun, temuan awal ini juga tidak menutup mata terhadap adanya riak-riak prasangka laten yang diadopsi dari polarisasi sosiopolitik nasional. Kadang kala, sekat-sekat politik formal di tingkat nasional ikut memengaruhi persepsi antarkelompok di akar rumput. Komunitas Tionghoa Kristen terkadang merasa khawatir terhadap isu-isu intoleransi, sementara Tionghoa Muslim kadang menghadapi tantangan berupa beban pembuktian “keislaman” mereka di mata mayoritas, sekaligus pembuktian “loyalitas kultural” di mata keluarga besar mereka yang non-Muslim.

Meskipun demikian, ada kesadaran kolektif yang kuat di antara kedua kelompok ini bahwa mereka berbagi nasib sejarah yang sama sebagai bagian utuh dari bangsa Indonesia. Kesadaran akan sejarah diskriminasi masa lalu mendorong kedua komunitas untuk lebih aktif terlibat dalam gerakan kemasyarakatan yang sifatnya lintas batas. Mereka mulai keluar dari “menara gading” ekonomi dan masuk ke dalam ruang-ruang advokasi sosial, kebudayaan, hingga politik praktis guna memastikan hak-hari kewarganegaraan yang setara bagi semua.

Sebagai temuan awal, studi ini menegaskan bahwa model kesalehan beragama yang ditunjukkan oleh Tionghoa Muslim dan Kristen di Indonesia adalah potret nyata dari pluralisme yang hidup (living pluralism). Mereka tidak sekadar bertoleransi dalam kata-kata, melainkan mempraktikkannya dalam keseharian yang kompleks. Dialektika identitas ini membuktikan bahwa menjadi Muslim yang taat atau Kristen yang taat, sekaligus menjadi Tionghoa yang menghormati budaya, dan menjadi Indonesia yang nasionalis, adalah hal yang sangat mungkin berjalan beriringan tanpa harus saling menegasikan.

Penutup: Penerokaan Lanjutan

Sebagai simpulan dari temuan awal studi kasus ini, keberadaan komunitas Tionghoa Muslim dan Kristen di Indonesia memperlihatkan bahwa identitas keagamaan dan etnisitas bersifat dinamis serta saling memperkaya. Kedua kelompok ini berhasil meruntuhkan tembok pembatas stereotipik dan membuktikan bahwa komitmen spiritual tidak menghalangi kecintaan mereka pada warisan budaya leluhur maupun tanah air. Peran unik Tionghoa Muslim sebagai jembatan kultural serta ketahanan sosial Tionghoa Kristen sebagai minoritas ganda memberikan kontribusi teoretis dan praktis yang penting bagi studi multikulturalisme di Indonesia.

Mengingat ini merupakan kajian awal, masih diperlukan penelitian lanjutan yang lebih komprehensif untuk memetakan dinamika ini di berbagai daerah dengan karakteristik sosiologis yang berbeda. Namun, potret koeksistensi yang damai dan dialektika identitas yang cair ini setidaknya memberikan optimisme baru. Di tengah tantangan polarisasi yang kerap menguji bangsa, narasi kehidupan dari komunitas Tionghoa Muslim dan Kristen di Indonesia menawarkan pelajaran berharga tentang bagaimana merayakan perbedaan di dalam harmoni keindonesiaan.

 

Cite this article as: Ismail Suardi Wekke, "Tionghoa Indonesia Muslim dan Kristen: Temuan Awal Studi Kasus," in Publikasi Universitas Muhammadiyah Barru, June 27, 2026, https://publikasi.unmuhbarru.ac.id/2026/06/27/tionghoa-indonesia-muslim-dan-kristen-temuan-awal-studi-kasus/.
Budaya Kerja Jepang (ISW)

Belajar dari Budaya Kerja Perguruan Tinggi Jepang dan Spiritualitas Kemajuan Pendidikan di Indonesia

Publikasi.unmuhbarru.ac.id, Barru – Budaya kerja di perguruan tinggi Jepang dikenal secara global karena memiliki standar disiplin yang sangat tinggi, integritas akademik yang kokoh, serta dedikasi luar biasa terhadap riset dan inovasi. Institusi seperti University of Tokyo, Kyoto University, dan Tokyo Institute of Technology menjadi pilar utama dalam mencetak generasi unggul yang mengombinasikan modernitas teknologi dengan nilai-nilai luhur tradisional. Mempelajari bagaimana ekosistem akademik di Negeri Sakura ini beroperasi bukan sekadar melihat kemegahan fasilitasnya, melainkan menyelami filosofi kerja yang mendasari setiap aktivitas harian civitas akademika di sana.

Di balik reputasi global tersebut, terdapat pilar-pilar budaya kerja khas Jepang seperti kaizen (perbaikan terus-menerus), monozukuri (kesempurnaan dalam berkarya), serta loyalitas kelompok yang kuat. Dalam konteks perguruan tinggi, nilai-nilai ini termanifestasi dalam manajemen laboratorium yang mandiri namun kolaboratif, ketepatan waktu yang mutlak, hingga komitmen mendalam dosen terhadap bimbingan mahasiswa. Bagi institusi pendidikan di negara berkembang seperti Indonesia, mengadopsi ethos kerja profesional ini menjadi modal krusial untuk mentransformasi tata kelola kampus menuju kelas dunia.

Menariknya, semangat transformasi dan adopsi nilai kebaikan ini memiliki paralel historis yang kuat dengan dinamika pendidikan tinggi di Indonesia, khususnya bagaimana Muhammadiyah bergerak di ranah lokal. Ketika Muhammadiyah berkiprah di tanah Sulawesi, terjadi perjumpaan budaya yang unik antara gagasan modernis Islam dengan tradisi Bugis-Makassar yang sarat akan etos kepemimpinan dan harga diri. Dari titik temu inilah lahir dorongan besar yang memicu pendirian dan pengembangan jaringan perguruan tinggi Muhammadiyah yang progresif, membuktikan bahwa adaptasi budaya luhur mampu menggerakkan kemajuan pendidikan secara masif.

Nilai Kaizen dan Etos Akademik di Perguruan Tinggi Jepang

Perguruan tinggi di Jepang meletakkan fondasi operasionalnya pada prinsip profesionalisme yang ketat dan efisiensi birokrasi. Setiap elemen, mulai dari staf administrasi hingga jajaran profesor, terikat pada sistem yang menuntut presisi tinggi. Hal ini terlihat dari manajemen waktu yang sangat disiplin, di mana keterlambatan dianggap sebagai bentuk ketidakprofesionalan yang serius. Proses administrasi dirancang secara sistematis untuk mendukung penuh produktivitas dosen dan peneliti, sehingga waktu mereka tidak habis terjebak dalam urusan birokrasi yang berbelit-belit.

Di ranah riset, budaya kerja berbasis koza (sistem laboratorium hierarkis namun solid) memegang peranan penting. Seorang profesor senior memimpin tim yang terdiri dari asisten profesor dan mahasiswa pascasarjana untuk mengeksplorasi satu fokus bidang ilmu secara mendalam selama bertahun-tahun. Pola ini menumbuhkan transfer keilmuan yang sangat efektif dan menjaga keberlanjutan riset lintas generasi. Hubungan mentorship antara dosen dan mahasiswa di Jepang juga sangat erat, di mana dosen bertanggung jawab moral tidak hanya pada pencapaian akademik mahasiswa, tetapi juga pada transisi karier mereka setelah lulus.

Prinsip kaizen atau evaluasi berkala untuk perbaikan tanpa henti diterapkan secara nyata dalam kurikulum dan metode pengajaran. Kurikulum di universitas-universitas Jepang tidak bersifat statis, melainkan terus diadaptasikan dengan kebutuhan industri terbarukan dan tren global. Budaya kebersihan, kemandirian, dan tanggung jawab personal juga terlihat dari bagaimana fasilitas kampus dirawat bersama, menciptakan lingkungan akademis yang kondusif untuk berpikir kritis dan berinovasi secara kolektif.

Perjumpaan Muhammadiyah, Tradisi Bugis-Makassar, dan Ekspansi Pendidikan

Semangat kerja keras dan pencarian kesempurnaan di Jepang menemukan resonansi yang menarik jika kita melihat sejarah perkembangan Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM) di Sulawesi Selatan. Ketika gerakan purifikasi dan modernisasi Islam yang dibawa Muhammadiyah masuk ke wilayah Sulawesi Selatan, gerakan ini tidak menghapus identitas lokal, melainkan berdialog dengan tradisi Bugis-Makassar. Masyarakat Bugis-Makassar dikenal memiliki falsafah hidup yang kuat, yang menekankan pentingnya kehormatan, kerja keras, dan penjelajahan.

Dalam budaya Bugis-Makassar, terdapat konsep Siri’ na Pesse (harga diri dan empati sosial) serta prinsip kemandirian dalam merantau (passompe’). Ketika nilai-nilai lokal yang mengagungkan keteguhan prinsip dan keberanian ini berjumpa dengan etos kemajuan umat (tajdid) yang diusung Muhammadiyah, terjadi sebuah ledakan energi sosiologis yang positif. Muhammadiyah memberikan wadah teologis dan institusional, sementara tradisi Bugis-Makassar menyuplai keberanian, ketangguhan, dan semangat juang yang tinggi untuk mendirikan amal usaha.

Melalui perpaduan karakter inilah, tokoh-tokoh lokal Muhammadiyah di Sulawesi Selatan bergerak secara agresif membangun institusi pendidikan. Jaringan perguruan tinggi seperti Universitas Muhammadiyah Makassar (Unismuh) dan berbagai PTM di wilayah sekitarnya lahir dari modal sosial kedisiplinan, kemandirian finansial, serta semangat gotong royong masyarakat lokal. Keberhasilan ini menunjukkan bahwa akselerasi mutu pendidikan tinggi bisa dicapai dengan cepat ketika nilai-nilai kemajuan global dikombinasikan secara apik dengan akar budaya lokal yang kompetitif.

Hubungan erat antara tradisi kerja keras, komitmen mutu, dan adaptabilitas ini menjadi benang merah yang menyatukan pelajaran dari universitas di Jepang dengan kisah sukses PTM di tanah Sulawesi. Kedua entitas ini membuktikan bahwa budaya kerja yang unggul tidak muncul dari ruang hampa, melainkan dibentuk oleh komitmen manusianya untuk terus memperbaiki diri. Dengan menyerap kedisplinan tata kelola kampus Jepang dan mempertahankan spiritualitas serta ketangguhan lokal, perguruan tinggi di Indonesia memiliki peluang besar untuk terus berkembang di kancah internasional.

Penutup: Jepang dan Kita

Belajar dari budaya kerja perguruan tinggi di Jepang memberikan kita perspektif berharga bahwa keunggulan akademik global berakar pada kedisplinan harian, manajemen riset yang fokus, dan evaluasi berkelanjutan yang tiada henti. Karakteristik institusi di Jepang mengajarkan pentingnya melepaskan ego sektoral demi pencapaian kolektif dan kemajuan ilmu pengetahuan. Nilai-nilai universal ini menjadi cermin penting bagi dunia pendidikan tinggi di Indonesia untuk terus berbenah, meningkatkan efisiensi birokrasi, dan memperkuat relevansi riset demi kemaslahatan masyarakat luas.

Di sisi lain, refleksi atas perjumpaan Muhammadiyah dengan tradisi Bugis-Makassar mempertegas bahwa Indonesia memiliki modal kultural yang luar biasa tangguh untuk membangun peradaban pendidikan yang maju. Ketika nilai lokal seperti Siri’ na Pesse diintegrasikan dengan visi kemajuan yang inklusif, keterbatasan fasilitas dapat diatasi dengan semangat kemandirian dan kerja keras yang tinggi. Sinergi antara adopsi sistem profesionalisme ala Jepang dan optimalisasi karakter luhur bangsa merupakan kunci utama dalam mewujudkan perguruan tinggi yang tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga berakar kuat pada nilai moral dan budaya.

Cite this article as: Ismail Suardi Wekke, "Belajar dari Budaya Kerja Perguruan Tinggi Jepang dan Spiritualitas Kemajuan Pendidikan di Indonesia," in Publikasi Universitas Muhammadiyah Barru, June 27, 2026, https://publikasi.unmuhbarru.ac.id/2026/06/27/belajar-dari-budaya-kerja-perguruan-tinggi-jepang-dan-spiritualitas-kemajuan-pendidikan-di-indonesia/.
Muhammadiyah (ISW)

Perguruan Tinggi Muhammadiyah di Bugis-Makassar: Spirit Keberagamaan Berjumpa dengan Etnisitas

Publikasi.unmuhbarru.ac.id, Barru – Muhammadiyah sebagai gerakan pembaruan Islam (tajdid) telah lama menapakkan kakinya di tanah Sulawesi Selatan, sebuah wilayah yang sarat dengan kekayaan adat dan falsafah hidup suku Bugis-Makassar. Perjumpaan antara spirit keagamaan yang bercorak murni dan dinamis dengan etnisitas lokal yang teguh tidak melahirkan benturan destruktif, melainkan sebuah sintesis kebudayaan yang saling menguatkan. Di tengah ruang kultural inilah, Muhammadiyah hadir bukan untuk mencabut akar tradisi, melainkan memberikan arah yang memajukan melalui jalur dakwah dan sosial-kemasyarakatan.

Salah satu manifestasi paling nyata dari bertemunya dua kekuatan ini adalah menjamurnya Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM) di seantero jazirah Sulawesi Selatan. Dari Makassar di ibukota sampai ke Luwu. Bahkan kabupaten seperti Sinjai, berdiri megah dua perguruan tinggi. Begitu pula di Gowa, sebuah institut yang dikelola Aisyiyah. 

Institusi pendidikan tinggi yang didirikan oleh Muhammadiyah di wilayah ini bukan sekadar ruang transfer ilmu pengetahuan semata, melainkan menjadi laboratorium sosial tempat nilai-nilai Islam berkemajuan berdialog secara intens dengan lokalitas. Lembaga-lembaga ini tumbuh subur di kota hingga pelosok daerah, mencerminkan bagaimana etos kerja dan semangat juang masyarakat setempat menyatu dengan visi pendidikan persyarikatan.

Pendahuluan ini menegaskan bahwa PTM di wilayah Bugis-Makassar mengemban misi ganda yang sangat strategis. Di satu sisi, mereka memikul tanggung jawab akademis dan teologis untuk melahirkan generasi yang murni secara akidah dan unggul secara intelektual. Di sisi lain, mereka menjadi penjaga gawang kebudayaan yang merekonstruksi identitas kebugisan dan kemakassaran agar tetap relevan di era modern, sehingga spirit keagamaan dan karakter etnisitas dapat berjalan beriringan demi kemajuan peradaban.

Perguruan Tinggi Muhammadiyah di Tanah Bugis-Makassar

Perjumpaan awal Muhammadiyah dengan masyarakat Bugis-Makassar didasari oleh adanya titik temu (kalibrasi) antara nilai keislaman dan falsafah hidup lokal. Suku Bugis-Makassar dikenal memegang teguh prinsip Siri’ na Pesse (harga diri dan solidaritas/empati) serta Asituruseng (kerjasama). Ketika Muhammadiyah membawa gagasan tentang kemandirian, amal saleh yang terorganisasi, dan penegakan martabat manusia melalui pendidikan, masyarakat lokal melihat hal tersebut sebagai penguatan terhadap prinsip Siri’ mereka. Islam tidak lagi dipandang sebagai dogma yang berjarak, melainkan energi penggerak yang klop dengan karakter asli mereka yang pemberani dan teguh pendirian.

Dalam perkembangannya, Muhammadiyah melakukan strategi “inkulturasi” yang arif di Sulawesi Selatan. Alih-alih memberangus tradisi lokal secara frontal, para tokoh Muhammadiyah gelombang awal di tanah ini menggunakan pendekatan yang menghargai struktur sosial setempat, termasuk merangkul kaum bangsawan (Arung) dan pemuka adat. Pendekatan ini melunakkan resistensi kultural dan mengubah kecurigaan menjadi penerimaan yang hangat. Tradisi luhur seperti Pangngaderreng (sistem norma adat) yang sejalan dengan akhlak Islam dipertahankan, sementara praktik-praktik yang berbau takhayul dan khurafat dikikis secara perlahan melalui edukasi yang persuasif.

Keberhasilan dialog kultural ini kemudian melahirkan transformasi besar dalam bentuk pendirian institusi pendidikan. Muhammadiyah menyadari bahwa untuk mengakar kuat di tanah Bugis-Makassar, dakwah lisan harus diwujudkan dalam bentuk amal nyata (amal usaha). Maka, mulailah dirintis sekolah-sekolah yang kemudian berevolusi menjadi universitas, institut, dan sekolah tinggi yang tersebar di berbagai daerah, seperti Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar, Unismuh Parepare, Universitas Muhammadiyah Palopo, hingga PTM di Bone, Sinjai, Barru, Palopo, Enrekang, Sidenrang Rappang, dan Bulukumba. Kehadiran kampus-kampus ini menjadi penanda beralihnya pusat peradaban dari pola tradisional ke modern.

Etnisitas Bugis-Makassar yang terkenal dengan etos Passompe (pelaut/perantau) turut mewarnai karakter Perguruan Tinggi Muhammadiyah di wilayah ini. Karakter pengembara yang tangguh, adaptif, dan berani mengambil risiko ini diserap ke dalam iklim akademik kampus. Mahasiswa PTM di Sulawesi Selatan dididik untuk tidak hanya jago di kandang sendiri, tetapi juga memiliki mentalitas global yang siap merantau dan membawa perubahan di mana pun mereka ditempatkan. Nafas Islam berkemajuan yang ditiupkan Muhammadiyah berkelindan erat dengan mentalitas petualang yang pantang menyerah ini.

Lebih jauh lagi, PTM di wilayah Bugis-Makassar berhasil mengintegrasikan nilai kearifan lokal ke dalam kurikulum dan budaya organisasinya. Konsep Tellu Cappa (Tiga Ujung: ujung lidah/diplomasi, ujung keris/keberanian, dan ujung kemaluan/kehormatan) yang legendaris dalam falsafah Bugis dirumuskan kembali dalam bingkai nilai keislaman (AIK/Al-Islam dan Kemuhammadiyahan). Ujung lidah bermutasi menjadi kecakapan intelektual dan komunikasi dakwah, ujung keris menjadi ketegasan dalam menegakkan keadilan, dan ujung kemaluan menjadi komitmen mutlak terhadap integritas moral dan spiritualitas.

Di ranah sosial-ekonomi, Perguruan Tinggi Muhammadiyah di Sulawesi Selatan bertindak sebagai mesin penggerak mobilitas vertikal bagi masyarakat lokal. Melalui akses pendidikan tinggi yang inklusif, anak-anak petani, nelayan, dan pekerja dari berbagai pelosok daerah Bugis-Makassar dapat mengenyam pendidikan berkualitas. Hal ini memutus mata rantai kemiskinan dan mencetak kelas menengah baru yang religius sekaligus profesional. PTM tidak hanya melahirkan sarjana, tetapi juga melahirkan kader-kader bangsa yang memimpin instansi pemerintahan, sektor swasta, dan lembaga sosial.

Secara kultural dan strategis, eksistensi PTM di tanah Bugis-Makassar memperkokoh posisi Sulawesi Selatan sebagai salah satu pilar utama kekuatan Muhammadiyah di kawasan Indonesia Timur. Kampus-kampus ini menjadi pusat pemikiran Islam moderat yang membentengi masyarakat dari arus radikalisme sekaligus sekularisme ekstrem. Melalui sinergi yang apik antara spirit keberagamaan yang inklusif dan identitas etnisitas yang kuat, Perguruan Tinggi Muhammadiyah membuktikan bahwa lokalitas dan modernitas keagamaan bukan dua hal yang harus saling meniadakan, melainkan bisa menari bersama dalam harmoni.

Penutup: Merajut Masa Depan Peradaban yang Berkemajuan dan Berakar Budaya

Sebagai penutup, Perguruan Tinggi Muhammadiyah di tanah Bugis-Makassar adalah potret sukses dari sebuah perkawinan ideologis dan kultural. Spirit keberagamaan Islam berkemajuan yang dibawa oleh Muhammadiyah tidak datang sebagai penjajah kebudayaan, melainkan sebagai kawan dialog yang menyuntikkan energi pembaruan ke dalam tubuh etnisitas lokal. PTM telah berhasil menjadi wadah di mana nilai-nilai luhur Islam dan falsafah hidup Bugis-Makassar dilebur menjadi sebuah kekuatan kolektif yang mampu melahirkan manusia-manusia unggul, berintegritas, dan tangguh menghadapi tantangan zaman.

Menatap masa depan, tantangan PTM di wilayah ini adalah menjaga agar api dialektika antara agama dan budaya ini tidak padam di tengah gempuran globalisasi. Kampus-kampus Muhammadiyah harus terus konsisten merawat nilai kearifan lokal seperti Siri’ na Pesse di dalam etos akademiknya, sembari terus memacu inovasi teknologi dan sains. Dengan tetap berakar pada bumi etnisitas Bugis-Makassar dan menjulang tinggi ke langit spirit keagamaan yang mencerahkan, Perguruan Tinggi Muhammadiyah akan terus menjadi suluh peradaban yang utama di Indonesia Timur.

Cite this article as: Ismail Suardi Wekke, "Perguruan Tinggi Muhammadiyah di Bugis-Makassar: Spirit Keberagamaan Berjumpa dengan Etnisitas," in Publikasi Universitas Muhammadiyah Barru, June 27, 2026, https://publikasi.unmuhbarru.ac.id/2026/06/27/perguruan-tinggi-muhammadiyah-di-bugis-makassar-spirit-keberagamaan-berjumpa-dengan-etnisitas/.
Budaya Kerja (ISW)

Memotret Budaya Kerja Perguruan Tinggi: Menjembatani Tradisi Akademik dan Profesionalisme Moderen

Publikasi.unmuhbarru.ac.id, Jakarta – Perguruan tinggi merupakan institusi unik yang memanggul tanggung jawab besar sebagai pusat lahirnya ilmu pengetahuan, moralitas, dan inovasi. Berbeda dengan korporasi komersial yang berorientasi penuh pada profit, esensi eksistensi sebuah kampus berakar pada pengabdian masyarakat dan pencetakan generasi masa depan. Keunikan misi ini melahirkan lanskap budaya kerja yang dinamis, di mana nilai-nilai kebebasan akademik harus berpadu secara harmonis dengan tuntutan profesionalisme, efisiensi birokrasi, dan daya saing global.

Namun, mengelola budaya kerja di ranah akademis bukanlah perkara mudah. Sering kali terjadi benturan laten antara sifat otonom para akademisi dengan kebutuhan struktur manajemen yang terukur. Di satu sisi, dosen dan peneliti membutuhkan ruang kebebasan berpikir yang luas untuk berinovasi; di sisi lain, institusi dituntut mematuhi standardisasi akreditasi dan tata kelola organisasi yang ketat. Jika ritme ini tidak dikelola secara bijak, perguruan tinggi berisiko terjebak dalam rutinitas administratif yang justru membelenggu kreativitas intelektual.

Memasuki era disrupsi digital dan kompetisi global yang kian sengit, perguruan tinggi dipaksa untuk meredefinisikan budaya kerjanya. Budaya kerja yang unggul bukan lagi sekadar pelengkap, melainkan fondasi utama bagi keberlanjutan eksistensi institusi. Dalam konteks Indonesia, salah satu potret transformasi budaya kerja yang menarik untuk dikaji adalah bagaimana organisasi kemasyarakatan sebesar Muhammadiyah berhasil mengintegrasikan nilai-nilai spiritualitas ke dalam etos kerja modern di ratusan Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (PTMA).

Perguruan Tinggi Kontemporer

Budaya kerja di perguruan tinggi pada dasarnya berpijak pada nilai-nilai inti Tri Dharma Perguruan Tinggi, yaitu pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Ketiga pilar ini menuntut setiap elemen di dalam kampus—mulai dari pimpinan, dosen, hingga staf pelaksana—untuk memiliki pola pikir pembelajar sepanjang hayat. Ketika nilai-nilai ini meresap menjadi budaya kolektif, suasana akademis yang sehat akan tercipta secara alami, di mana diskusi intelektual, riset kolaboratif, dan inovasi pengajaran dihargai sebagai capaian tertinggi.

Namun, tantangan terbesar dalam ekosistem kampus sering kali berakar pada sindrom menara gading atau kecenderungan bekerja dalam sekat-sekat (silo). Ego sektoral antar-fakultas atau antar-program studi kerap menghambat kolaborasi antardisiplin ilmu yang krusial bagi penyelesaian masalah nyata di masyarakat. Oleh karena itu, modernisasi budaya kerja menuntut adanya pergeseran dari budaya kompetisi internal yang tidak sehat menuju budaya kolaborasi (collaborative culture) yang inklusif dan integratif.

Di samping itu, aspek tata kelola dan profesionalisme non-akademik (tenaga kependidikan) memegang peran yang sama pentingnya dalam menentukan kenyamanan ekosistem kampus. Kecepatan pelayanan administrasi, keterbukaan informasi, dan pemanfaatan teknologi digital merupakan indikator dari budaya pelayanan prima (service excellence). Kampus yang gagal memodernisasi layanan administratifnya akan tertinggal karena energi civitas akademika habis terkuras oleh birokrasi yang berbelit-belit.

Di tengah lanskap tersebut, Muhammadiyah memberikan kontribusi teoretis dan praktis yang sangat kuat melalui konsep Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK) sebagai inti dari budaya organisasinya. Di ratusan PTMA yang tersebar di seluruh Indonesia, budaya kerja tidak sekadar dimaknai sebagai hubungan kontraktual profesional, melainkan bentuk manifestasi dari ibadah dan dakwah ammar ma’ruf nahi munkar. Hal inilah yang membedakan komitmen kerja di lingkungan Muhammadiyah dengan institusi lainnya.

Muhammadiyah mengintegrasikan etos kerja “ikhlas” dan “profesional” secara simultan. Dalam perspektif organisasi, ikhlas bukan berarti bekerja tanpa standar atau pasrah pada keadaan, melainkan kesadaran spiritual tertinggi bahwa setiap kontribusi di dunia akademik diniatkan untuk kemaslahatan umat. Nilai keikhlasan ini bertransformasi menjadi bahan bakar moral yang kuat, sehingga dalam keterbatasan fasilitas sekalipun di daerah-daerah terpencil, PTMA mampu tumbuh dan bersaing secara kompetitif.

Lebih jauh lagi, budaya organisasi Muhammadiyah sangat kental dengan prinsip tata kelola yang bersih dan akuntabel, yang bersumber dari karakter kejujuran (amanah). Pengambilan keputusan di lingkungan PTMA mengutamakan sistem kolektif-kolegial yang inklusif melalui mekanisme permusyawaratan, meminimalkan dominasi figur personal tertentu. Budaya ini menumbuhkan rasa kepemilikan yang tinggi (sense of belonging) di antara staf, dosen, dan pimpinan, yang pada gilirannya melahirkan loyalitas organisasi yang luar biasa.

Terakhir, budaya organisasi Muhammadiyah didorong oleh semangat berkemajuan (tajdid atau reformasi/pembaharuan). Spirit tajdid ini membuat perguruan tinggi Muhammadiyah cenderung adaptif dan tidak alergi terhadap perubahan zaman, baik dalam adopsi teknologi instruksional baru maupun modernisasi manajemen keuangan. Kombinasi unik antara akar nilai teologis yang kokoh dan fleksibilitas manajerial inilah yang membuat budaya kerja di perguruan tinggi Muhammadiyah menjadi salah satu jangkar keberhasilan persyarikatan dalam mencerdaskan bangsa.

Penutup: Arah Masa Depan

Budaya kerja di perguruan tinggi sejatinya adalah roh yang menggerakkan seluruh aktivitas pemikiran, pengajaran, dan pengabdian masyarakat. Keberhasilan sebuah kampus dalam melahirkan inovasi dan mencetak lulusan unggul sangat ditentukan oleh seberapa konsisten institusi tersebut merawat nilai-nilai integritas, profesionalisme, dan kolaborasi dalam kesehariannya. Budaya kerja yang kuat dan sehat terbukti mampu mengubah tantangan keterbatasan eksternal menjadi peluang lompatan prestasi yang signifikan.

Integrasi nilai spiritualitas dan etos kerja modern—sebagaimana yang dicontohkan Muhammadiyah melalui nilai Al-Islam dan Kemuhammadiyahan—memberikan potret nyata bahwa nilai ketuhanan dan kemanusiaan dapat menjadi motor penggerak profesionalisme yang efektif. Menatap masa depan, perguruan tinggi di Indonesia harus berani mengikis birokrasi kaku dan sekat-sekat ego sektoral demi membangun budaya kerja yang adaptif, lincah (agile), dan berorientasi pada dampak nyata bagi peradaban masyarakat.

Cite this article as: Ismail Suardi Wekke, "Memotret Budaya Kerja Perguruan Tinggi: Menjembatani Tradisi Akademik dan Profesionalisme Moderen," in Publikasi Universitas Muhammadiyah Barru, June 27, 2026, https://publikasi.unmuhbarru.ac.id/2026/06/27/memotret-budaya-kerja-perguruan-tinggi-menjembatani-tradisi-akademik-dan-profesionalisme-moderen/.
G20 2026 (Unmuh Barru)

The Next G20 2026, Miami: Multilateral Cooperation in the topic Interreligious Understanding

Unmuhbarru.ac.id, Barru – The G20 Summit in Miami, scheduled for December 2026, presents an important opportunity for multilateral cooperation to extend beyond its traditional economic and financial focus. While the G20’s official agenda, organized by the host country, often centers on global economic growth, trade, and financial stability, the associated “Engagement Groups”—like the G20 Interfaith Forum—provide a vital platform to address societal challenges. 

Considering the complexity of global issues, dedicating serious deliberation to Interreligious Understanding within the broader framework of multilateral efforts is essential for fostering stability and cohesion worldwide. This topic will be addressed through civilian participation. The platform among it is IF20.

Focusing on Interreligious Understanding as a topic for multilateral cooperation acknowledges the profound influence of faith-based organizations and religious communities on global affairs, from social development and poverty alleviation to conflict resolution and peacebuilding. The Miami summit, therefore, can serve as a crucial venue for G20 nations to develop and endorse joint strategies that leverage the positive contributions of diverse religious groups. 

This includes promoting interfaith dialogue, supporting educational initiatives that counter prejudice, and ensuring that policies related to economic growth and development are sensitive to cultural and religious diversity, thereby fostering inclusive societies. In addition, there will be university partnerships for that cooperation.

Ultimately, by prioritizing Interreligious Understanding, the G20 2026 can advance a more holistic vision of global governance. Multilateral cooperation on this topic is not merely an exercise in cultural exchange but a strategic necessity. It is about building trust and resilience against forces of division, extremism, and conflict that often have religious dimensions. The discussions in Miami would aim to translate the principles of dialogue and mutual respect into actionable commitments, ensuring that the G20’s pursuit of a prosperous and stable world is firmly anchored in the recognition and celebration of human diversity.

Cite this article as: Ismail Suardi Wekke, "The Next G20 2026, Miami: Multilateral Cooperation in the topic Interreligious Understanding," in Publikasi Universitas Muhammadiyah Barru, September 28, 2025, https://publikasi.unmuhbarru.ac.id/2025/09/28/the-next-g20-2026-miami-multilateral-cooperation-in-the-topic-interreligious-understanding/.
Sulsel (Unmuh Barru)

Muhammadiyah di Sulawesi Selatan: Pilar Pendidikan Islam

Unmuhbarru.ac.id, Barru – Muhammadiyah, sebuah organisasi Islam modernis, telah berpartisipasi dalam sejarah dan perkembangan sosial-keagamaan Indonesia (bahkan mengglobal), dan begitu pula di Sulawesi Selatan. Sejak awal abad ke-20, organisasi ini telah berdiri melalui partisipasi warga, khususnya melalui pendirian lembaga pendidikan yang menjadi pilar utama dakwah dan pembaharuan. Kontribusi Muhammadiyah di wilayah ini tidak terlepas dari peran penting perguruan tinggi Muhammadiyah dan Aisyiyah sebagai pusat-pusat intelektual dan kemajuan.

Muhammadiyah masuk ke Sulawesi Selatan melalui jalur perdagangan dan dakwah. Para saudagar dan ulama yang terinspirasi oleh gerakan K.H. Ahmad Dahlan membawa ide-ide pembaharuan ke Makassar dan kota-kota lain. Mereka mendirikan cabang-cabang Muhammadiyah yang segera fokus pada pendidikan. Pada masa awal, sekolah-sekolah Muhammadiyah menjadi alternatif dari pendidikan tradisional dan kolonial, menawarkan kurikulum yang memadukan ajaran Islam dengan ilmu pengetahuan modern.

Perguruan Tinggi Muhammadiyah: Gerakan Intelektual

Perguruan tinggi Muhammadiyah di Sulawesi Selatan menjadi tonggak utama dalam memperluas jangkauan dan pengaruh organisasi. Institusi-institusi ini tidak hanya mencetak lulusan yang kompeten di berbagai bidang, tetapi juga menjadi pusat kajian Islam dan ilmu pengetahuan. Mereka berperan dalam melahirkan intelektual, profesional, dan pemimpin yang berlandaskan nilai-nilai Muhammadiyah.

Salah satu perguruan tinggi terkemuka adalah Universitas Muhammadiyah Makassar (Unismuh Makassar). Didirikan pada tahun 1963, Unismuh Makassar berkembang menjadi salah satu universitas swasta terbesar di Indonesia Timur. Unismuh menawarkan beragam program studi, mulai dari ilmu sosial, humaniora, hingga sains dan teknologi. Kehadirannya telah memberikan kontribusi signifikan terhadap pembangunan sumber daya manusia di Sulawesi Selatan dan sekitarnya.

Selain Unismuh Makassar, ada beberapa perguruan tinggi Muhammadiyah lainnya yang tersebar di berbagai kabupaten/kota, seperti Universitas Muhammadiyah Parepare dan Universitas Muhammadiyah Palopo. Masing-masing perguruan tinggi ini memiliki peran strategis dalam memenuhi kebutuhan pendidikan lokal dan regional. Mereka tidak hanya menjalankan fungsi akademik, tetapi juga aktif dalam pengabdian kepada masyarakat dan penelitian.

Begitu pula di Barru, dari STKIP Muhammadiyah Barru bertransformasi menjadi Universitas Muhammadiyah Barru. Kini (2025) telah menjejakkan langkah di tahun kedua, menuju tahun ketiga. Dalam perkembangannya, telah mencapai re-akreditasi. Pengembangan Unmuh Barru, juga melangkah sampai ke jenjang global. Dalam perhelatan teraklir, bersama BOLT menggelar Summer School in Japan, Agustus 2025.

Peran Aisyiyah: Memajukan Perempuan

Aisyiyah, organisasi otonom Muhammadiyah yang khusus membina perempuan, memiliki peran yang sama keberadaanya. Aisyiyah di Sulawesi Selatan aktif dalam mendirikan lembaga pendidikan, terutama yang berfokus pada perempuan dan anak-anak. Mereka mengelola berbagai sekolah, mulai dari taman kanak-kanak hingga perguruan tinggi.

Institut Aisyiyah Sulawesi Selatan di Samata (Gowa) adalah salah satu peran Aisyiyah dalam pendidikan tinggi. Institusi ini fokus pada bidang keagamaan (studi Islam), mencetak tenaga-tenaga profesional keagamaan Islam. Keberadaan Institut Aisyiyah menjadi diperlukan dalam meningkatkan kualitas pelayanan keagamaan, terutama dalam menyentuh kalangan perempuan.

Aisyiyah juga mengelola berbagai panti asuhan, rumah sakit, dan lembaga sosial lainnya yang terintegrasi dengan jaringan Muhammadiyah. Melalui berbagai programnya, Aisyiyah memberdayakan perempuan, meningkatkan kesejahteraan keluarga, dan menyebarkan nilai-nilai Islam yang berkemajuan.

Dampak dan Kontribusi

Kehadiran perguruan tinggi Muhammadiyah dan Aisyiyah di Sulawesi Selatan telah memberikan dampak yang luas. Pertama, pendidikan Islam modern menjadi lebih mudah diakses oleh masyarakat. Kedua, mereka telah melahirkan generasi cendekiawan dan profesional yang memiliki integritas dan komitmen sosial. Ketiga, perguruan tinggi ini menjadi agen perubahan yang mendorong pembangunan sosial, ekonomi, dan budaya.

Secara keseluruhan, Muhammadiyah di Sulawesi Selatan tidak hanya dikenal sebagai organisasi keagamaan, tetapi juga sebagai gerakan pendidikan yang kuat. Perguruan tinggi dan lembaga pendidikan lainnya yang didirikan oleh Muhammadiyah dan Aisyiyah menjadi bukti nyata dari komitmen mereka untuk memajukan umat dan bangsa. Mereka terus beradaptasi dengan perkembangan zaman, memastikan bahwa dakwah melalui pendidikan tetap relevan dan berkelanjutan.

Cite this article as: Ismail Suardi Wekke, "Muhammadiyah di Sulawesi Selatan: Pilar Pendidikan Islam," in Publikasi Universitas Muhammadiyah Barru, August 27, 2025, https://publikasi.unmuhbarru.ac.id/2025/08/27/muhammadiyah-di-sulawesi-selatan-pilar-pendidikan-islam/.
The ISHE Melaka (Panrita Husada & Unmuh Barru)

The Connection Between Health, Environment, and Entrepreneurial Spirit

Unmuhbarru.ac.id, Barru – The modern world often compartmentalizes our biggest challenges, treating public health, environmental conservation, and economic growth as separate, and sometimes competing, domains. However, a deeper look reveals a profound and often overlooked symbiotic relationship between health, the environment, and the entrepreneurial spirit. Rather than isolated variables, they form a complex, interconnected system where the well-being of one directly influences the others. 

A healthy population is more capable of innovation and problem-solving, a thriving environment provides the essential resources for life and industry, and a dynamic entrepreneurial class possesses the creativity to build a future that sustains both. Understanding this integrated framework is crucial for fostering a truly sustainable and prosperous society.

The connection between human health and the environment is perhaps the most self-evident. Environmental degradation directly leads to a myriad of public health crises. For instance, air pollution from industrial emissions and vehicles is a leading cause of respiratory diseases and heart conditions globally, while plastic waste and chemical runoff contaminate water sources, jeopardizing sanitation and food safety. 

The very air we breathe and water we drink, which are fundamental to human health, are products of our environment. As such, any degradation of our ecological systems poses a direct threat to our collective physical and mental well-being, creating a compelling, and urgent, need for innovative solutions that can reverse these trends and protect public health.

This is precisely where the entrepreneurial spirit becomes an indispensable force for positive change. Entrepreneurs are, by nature, problem-solvers. They identify needs and develop novel solutions, and in the context of our environmental and health crises, they are uniquely positioned to innovate. Startups focused on developing clean energy technologies, creating sustainable, biodegradable materials, or building smart agriculture systems are directly addressing the root causes of environmental damage. 

These ventures not only generate economic value but also create a healthier planet for everyone, demonstrating that profit and purpose can, and must, go hand in hand. The entrepreneurial mindset transforms environmental challenges from insurmountable problems into market opportunities for creating a better world.

Moreover, the relationship is reciprocal: a focus on health and wellness can serve as a powerful catalyst for entrepreneurial activity. As individuals become more conscious of their personal well-being, a new demand emerges for products and services that support a healthy lifestyle. This consumer shift has fueled a boom in the wellness industry, from organic food delivery services and fitness technology to mental health applications and eco-friendly home goods. 

An entrepreneur who recognizes this shift can build a successful business that not only meets a market need but also encourages a healthier society. This creates a virtuous cycle where personal health consciousness drives business innovation, which in turn makes a healthy lifestyle more accessible to others.

In conclusion, the destiny of human health, the environment, and entrepreneurialism is deeply intertwined. The challenges we face—from climate change to chronic disease—are too complex to be solved in isolation. A truly effective path forward lies in an integrated approach where the entrepreneurial spirit is harnessed not just for wealth creation, but for the betterment of both humanity and the planet. 

By fostering an environment where innovators are empowered to prioritize a holistic vision, we can create a future where healthy people thrive in a healthy environment, propelled by the very businesses they build to solve the world’s most pressing problems. This condition as the part of symposium of ISHE 2025 to come up of academia forum in identifying problem solving if any.

Cite this article as: Muriyati Mursali Asare, "The Connection Between Health, Environment, and Entrepreneurial Spirit," in Publikasi Universitas Muhammadiyah Barru, August 27, 2025, https://publikasi.unmuhbarru.ac.id/2025/08/27/the-connection-between-health-environment-and-entrepreneurial-spirit/.

 

Design Thinking (Unmuh Barru)

Kemampuan Design Thinking Bagi Mahasiswa

Unmuhbarru.ac.id, Jakarta – Di era digital yang penuh dengan perubahan dan ketidakpastian, mahasiswa dituntut untuk memiliki kemampuan yang adaptif dan inovatif. Salah satu kemampuan yang relevan dan perlu dikuasai adalah design thinking.

Design thinking bukan hanya sekadar proses desain produk, tetapi juga pendekatan pemecahan masalah yang berfokus pada pengguna (user-centered) dengan mengedepankan empati, kreativitas, dan kolaborasi.

Design thinking membekali mahasiswa dengan kemampuan untuk memahami kebutuhan dan masalah pengguna secara mendalam melalui empati. Proses ini melibatkan pengamatan, wawancara, dan riset untuk mengidentifikasi pain points atau tantangan yang dihadapi pengguna. Dengan pemahaman yang mendalam, mahasiswa dapat mengembangkan solusi yang tepat sasaran dan relevan.

Selain itu, design thinking mendorong mahasiswa untuk berpikir kreatif dan menghasilkan ide-ide inovatif. Melalui teknik brainstorming, mind mapping, dan prototyping, mahasiswa diajak untuk mengeksplorasi berbagai kemungkinan solusi tanpa takut gagal. Proses iteratif ini memungkinkan mereka untuk terus menyempurnakan ide hingga mencapai solusi yang optimal.

Kemampuan kolaborasi juga menjadi aspek penting dalam design thinking. Mahasiswa belajar bekerja dalam tim yang beragam, menghargai perbedaan pendapat, dan membangun solusi secara bersama-sama. Kolaborasi ini tidak hanya meningkatkan kualitas solusi, tetapi juga mengembangkan kemampuan komunikasi dan kepemimpinan mahasiswa.

Penerapan design thinking dalam dunia perkuliahan dapat dilakukan melalui berbagai cara, seperti proyek kelompok, studi kasus, atau workshop. Mahasiswa dapat dilibatkan dalam proyek-proyek yang menantang, di mana mereka harus menerapkan tahapan design thinking untuk memecahkan masalah nyata. Dengan demikian, mereka tidak hanya belajar teori, tetapi juga mengalami langsung prosesnya.

Manfaat design thinking tidak hanya terbatas pada dunia akademik. Kemampuan ini sangat relevan di dunia kerja, di mana perusahaan-perusahaan mencari individu yang kreatif, inovatif, dan mampu memecahkan masalah secara efektif. Mahasiswa yang menguasai design thinking memiliki keunggulan kompetitif di pasar kerja.

Selain itu, design thinking juga dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Mahasiswa dapat menggunakan pendekatan ini untuk memecahkan masalah pribadi, merencanakan kegiatan, atau bahkan mengembangkan ide bisnis. Kemampuan ini membantu mereka untuk menjadi individu yang proaktif, adaptif, dan mampu menghadapi tantangan dengan percaya diri.

Dengan demikian, design thinking merupakan kemampuan yang sangat berharga bagi mahasiswa. Kemampuan ini tidak hanya membekali mereka dengan keterampilan pemecahan masalah, tetapi juga mengembangkan kreativitas, kolaborasi, dan empati. Di era yang terus berubah, mahasiswa yang menguasai design thinking akan memiliki bekal yang kuat untuk meraih kesuksesan di masa depan.

Cite this article as: Ismail Suardi Wekke, "Kemampuan Design Thinking Bagi Mahasiswa," in Publikasi Universitas Muhammadiyah Barru, March 13, 2025, https://publikasi.unmuhbarru.ac.id/2025/03/13/kemampuan-design-thinking-bagi-mahasiswa/.
Japan (Unmuh Barru)

Tantangan Belajar Alquran Bagi Mualaf Jepang

Unmuhbarru.ac.id, Barru – Islam di Jepang terus mengalami perkembangan, dengan jumlah mualaf yang terus bertambah. Namun, perjalanan spiritual para mualaf ini tidak selalu mudah, terutama dalam mempelajari Alquran. Ada berbagai tantangan unik yang mereka hadapi, mulai dari perbedaan bahasa hingga budaya.

Salah satu tantangan terbesar adalah bahasa. Bahasa Arab, bahasa Alquran, sangat berbeda dengan bahasa Jepang. Struktur kalimat, kosakata, dan sistem penulisan yang berbeda membuat proses belajar menjadi sangat sulit. Banyak mualaf Jepang yang kesulitan memahami makna ayat-ayat Alquransecara langsung.

Selain itu, budaya Jepang yang sekuler juga menjadi tantangan tersendiri. Tidak semua mualaf mendapatkan dukungan dari keluarga atau lingkungan sekitar dalam mempelajari agama baru mereka. Terkadang, mereka bahkan menghadapi diskriminasi atau penolakan.

Kurangnya sumber daya dan fasilitas juga menjadi masalah. Tidak banyak masjid atau pusat studi Islam di Jepang, terutama di daerah pedesaan. Hal ini membuat mualaf kesulitan mendapatkan akses ke guru atau materi pembelajaran yang berkualitas.

Namun, semangat para mualaf Jepang untuk mempelajari Alquransangatlah tinggi. Mereka menggunakan berbagai cara untuk mengatasi tantangan yang ada. Ada yang mengikuti kelas bahasa Arab, belajar secara daring, atau bergabung dengan komunitas Muslim.

Beberapa organisasi dan individu juga berupaya membantu para mualaf dalam perjalanan spiritual mereka. Mereka menyediakan kelas pengajian, menerjemahkan Alquranke dalam bahasa Jepang, dan mengadakan acara-acara keagamaan.

Peran teknologi juga sangat penting. Aplikasi dan situs web pembelajaran Alquranmembantu mualaf belajar secara mandiri, kapan saja dan di mana saja. Media sosial juga menjadi sarana untuk berbagi pengalaman dan saling mendukung.

Meskipun menghadapi berbagai tantangan, para mualaf Jepang terus berusaha untuk memahami dan mengamalkan ajaran Alquran. Mereka adalah bukti nyata bahwa hidayah bisa datang kepada siapa saja, di mana saja.

Cite this article as: Ismail Suardi Wekke, "Tantangan Belajar Alquran Bagi Mualaf Jepang," in Publikasi Universitas Muhammadiyah Barru, March 10, 2025, https://publikasi.unmuhbarru.ac.id/2025/03/10/tantangan-belajar-alquran-bagi-mualaf-jepang/.
Design Thinking (Unmuh Barru)

Design Thinking for Public Policy: Studi Kasus di Berbagai Lokasi

Unmubarru.ac.id, Da Lat – Design Thinking, sebuah pendekatan inovatif yang berpusat pada manusia, dapat digunakan dalam perumusan kebijakan publik. Metode ini menekankan pada pemahaman mendalam tentang kebutuhan dan aspirasi masyarakat, serta melibatkan mereka dalam proses perancangan solusi. Artikel ini akan membahas penerapan Design Thinking dalam kebijakan publik melalui studi kasus di Singapura, Vietnam, Bandung, dan Cimahi.

Singapura: Transformasi Layanan Publik

Singapura dikenal dengan efisiensi dan inovasi dalam layanan publiknya. Penerapan Design Thinking telah membantu pemerintah Singapura untuk merancang layanan yang lebih responsif dan berpusat pada warga. Contohnya, dalam proyek “Our Singapore Conversation”, pemerintah menggunakan Design Thinking untuk mengumpulkan umpan balik dari masyarakat tentang isu-isu penting, yang kemudian digunakan untuk merumuskan kebijakan yang lebih inklusif.

Vietnam: Peningkatan Partisipasi Masyarakat

Di Vietnam, Design Thinking digunakan untuk meningkatkan partisipasi masyarakat dalam perumusan kebijakan publik. Melalui lokakarya dan diskusi kelompok, masyarakat diajak untuk berbagi ide dan pandangan mereka tentang berbagai isu, seperti pembangunan infrastruktur dan perlindungan lingkungan. Hal ini membantu pemerintah untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik tentang kebutuhan masyarakat dan merumuskan kebijakan yang lebih relevan.

Bandung: Revitalisasi Ruang Publik

Pemerintah Kota Bandung menggunakan Design Thinking untuk merevitalisasi ruang publik. Melalui pendekatan yang kolaboratif, pemerintah melibatkan masyarakat dalam proses perancangan dan implementasi proyek-proyek revitalisasi. Hasilnya adalah ruang-ruang publik yang lebih hidup, nyaman, dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

Cimahi: Pengembangan Ekonomi Kreatif

Di Cimahi, Design Thinking digunakan untuk mengembangkan ekonomi kreatif. Pemerintah bekerja sama dengan pelaku industri kreatif untuk merumuskan kebijakan yang mendukung pertumbuhan sektor ini. Melalui pendekatan yang berpusat pada manusia, pemerintah memahami tantangan dan peluang yang dihadapi oleh pelaku industri kreatif, sehingga dapat merumuskan kebijakan yang lebih efektif.

Pemanfaatan Design Thinking dalam Kebijakan Publik

Design Thinking menawarkan beberapa keunggulan dalam perumusan kebijakan publik. Pertama, pendekatan ini membantu pemerintah untuk memahami kebutuhan dan aspirasi masyarakat secara lebih mendalam. Kedua, Design Thinking mendorong partisipasi masyarakat dalam proses perumusan kebijakan, sehingga menghasilkan kebijakan yang lebih inklusif dan relevan. Ketiga, Design Thinking memfasilitasi inovasi dalam kebijakan publik, sehingga pemerintah dapat menemukan solusi-solusi baru yang lebih efektif.

Meskipun menawarkan banyak manfaat, penerapan Design Thinking dalam kebijakan publik juga menghadapi tantangan. Salah satu tantangan utama adalah perlunya mengubah budaya birokrasi yang cenderung kaku dan hierarkis. Selain itu, Design Thinking juga membutuhkan sumber daya yang cukup, baik dari segi anggaran maupun tenaga ahli.

Penutup

Design Thinking merupakan pendekatan yang menjanjikan dalam perumusan kebijakan publik. Melalui studi kasus di Singapura, Vietnam, Bandung, dan Cimahi, kita dapat melihat bagaimana pendekatan ini telah membantu pemerintah untuk merancang kebijakan yang lebih responsif, inklusif, dan inovatif. Meskipun tantangan tetap ada, manfaat yang ditawarkan oleh Design Thinking menjadikannya sebagai alat yang berharga bagi pemerintah dalam upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Cite this article as: Ismail Suardi Wekke, "Design Thinking for Public Policy: Studi Kasus di Berbagai Lokasi," in Publikasi Universitas Muhammadiyah Barru, February 18, 2025, https://publikasi.unmuhbarru.ac.id/2025/02/18/design-thinking-for-public-policy-studi-kasus-di-berbagai-lokasi/.