Budaya Kerja Jepang (ISW)

Belajar dari Budaya Kerja Perguruan Tinggi Jepang dan Spiritualitas Kemajuan Pendidikan di Indonesia

Publikasi.unmuhbarru.ac.id, Barru – Budaya kerja di perguruan tinggi Jepang dikenal secara global karena memiliki standar disiplin yang sangat tinggi, integritas akademik yang kokoh, serta dedikasi luar biasa terhadap riset dan inovasi. Institusi seperti University of Tokyo, Kyoto University, dan Tokyo Institute of Technology menjadi pilar utama dalam mencetak generasi unggul yang mengombinasikan modernitas teknologi dengan nilai-nilai luhur tradisional. Mempelajari bagaimana ekosistem akademik di Negeri Sakura ini beroperasi bukan sekadar melihat kemegahan fasilitasnya, melainkan menyelami filosofi kerja yang mendasari setiap aktivitas harian civitas akademika di sana.

Di balik reputasi global tersebut, terdapat pilar-pilar budaya kerja khas Jepang seperti kaizen (perbaikan terus-menerus), monozukuri (kesempurnaan dalam berkarya), serta loyalitas kelompok yang kuat. Dalam konteks perguruan tinggi, nilai-nilai ini termanifestasi dalam manajemen laboratorium yang mandiri namun kolaboratif, ketepatan waktu yang mutlak, hingga komitmen mendalam dosen terhadap bimbingan mahasiswa. Bagi institusi pendidikan di negara berkembang seperti Indonesia, mengadopsi ethos kerja profesional ini menjadi modal krusial untuk mentransformasi tata kelola kampus menuju kelas dunia.

Menariknya, semangat transformasi dan adopsi nilai kebaikan ini memiliki paralel historis yang kuat dengan dinamika pendidikan tinggi di Indonesia, khususnya bagaimana Muhammadiyah bergerak di ranah lokal. Ketika Muhammadiyah berkiprah di tanah Sulawesi, terjadi perjumpaan budaya yang unik antara gagasan modernis Islam dengan tradisi Bugis-Makassar yang sarat akan etos kepemimpinan dan harga diri. Dari titik temu inilah lahir dorongan besar yang memicu pendirian dan pengembangan jaringan perguruan tinggi Muhammadiyah yang progresif, membuktikan bahwa adaptasi budaya luhur mampu menggerakkan kemajuan pendidikan secara masif.

Nilai Kaizen dan Etos Akademik di Perguruan Tinggi Jepang

Perguruan tinggi di Jepang meletakkan fondasi operasionalnya pada prinsip profesionalisme yang ketat dan efisiensi birokrasi. Setiap elemen, mulai dari staf administrasi hingga jajaran profesor, terikat pada sistem yang menuntut presisi tinggi. Hal ini terlihat dari manajemen waktu yang sangat disiplin, di mana keterlambatan dianggap sebagai bentuk ketidakprofesionalan yang serius. Proses administrasi dirancang secara sistematis untuk mendukung penuh produktivitas dosen dan peneliti, sehingga waktu mereka tidak habis terjebak dalam urusan birokrasi yang berbelit-belit.

Di ranah riset, budaya kerja berbasis koza (sistem laboratorium hierarkis namun solid) memegang peranan penting. Seorang profesor senior memimpin tim yang terdiri dari asisten profesor dan mahasiswa pascasarjana untuk mengeksplorasi satu fokus bidang ilmu secara mendalam selama bertahun-tahun. Pola ini menumbuhkan transfer keilmuan yang sangat efektif dan menjaga keberlanjutan riset lintas generasi. Hubungan mentorship antara dosen dan mahasiswa di Jepang juga sangat erat, di mana dosen bertanggung jawab moral tidak hanya pada pencapaian akademik mahasiswa, tetapi juga pada transisi karier mereka setelah lulus.

Prinsip kaizen atau evaluasi berkala untuk perbaikan tanpa henti diterapkan secara nyata dalam kurikulum dan metode pengajaran. Kurikulum di universitas-universitas Jepang tidak bersifat statis, melainkan terus diadaptasikan dengan kebutuhan industri terbarukan dan tren global. Budaya kebersihan, kemandirian, dan tanggung jawab personal juga terlihat dari bagaimana fasilitas kampus dirawat bersama, menciptakan lingkungan akademis yang kondusif untuk berpikir kritis dan berinovasi secara kolektif.

Perjumpaan Muhammadiyah, Tradisi Bugis-Makassar, dan Ekspansi Pendidikan

Semangat kerja keras dan pencarian kesempurnaan di Jepang menemukan resonansi yang menarik jika kita melihat sejarah perkembangan Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM) di Sulawesi Selatan. Ketika gerakan purifikasi dan modernisasi Islam yang dibawa Muhammadiyah masuk ke wilayah Sulawesi Selatan, gerakan ini tidak menghapus identitas lokal, melainkan berdialog dengan tradisi Bugis-Makassar. Masyarakat Bugis-Makassar dikenal memiliki falsafah hidup yang kuat, yang menekankan pentingnya kehormatan, kerja keras, dan penjelajahan.

Dalam budaya Bugis-Makassar, terdapat konsep Siri’ na Pesse (harga diri dan empati sosial) serta prinsip kemandirian dalam merantau (passompe’). Ketika nilai-nilai lokal yang mengagungkan keteguhan prinsip dan keberanian ini berjumpa dengan etos kemajuan umat (tajdid) yang diusung Muhammadiyah, terjadi sebuah ledakan energi sosiologis yang positif. Muhammadiyah memberikan wadah teologis dan institusional, sementara tradisi Bugis-Makassar menyuplai keberanian, ketangguhan, dan semangat juang yang tinggi untuk mendirikan amal usaha.

Melalui perpaduan karakter inilah, tokoh-tokoh lokal Muhammadiyah di Sulawesi Selatan bergerak secara agresif membangun institusi pendidikan. Jaringan perguruan tinggi seperti Universitas Muhammadiyah Makassar (Unismuh) dan berbagai PTM di wilayah sekitarnya lahir dari modal sosial kedisiplinan, kemandirian finansial, serta semangat gotong royong masyarakat lokal. Keberhasilan ini menunjukkan bahwa akselerasi mutu pendidikan tinggi bisa dicapai dengan cepat ketika nilai-nilai kemajuan global dikombinasikan secara apik dengan akar budaya lokal yang kompetitif.

Hubungan erat antara tradisi kerja keras, komitmen mutu, dan adaptabilitas ini menjadi benang merah yang menyatukan pelajaran dari universitas di Jepang dengan kisah sukses PTM di tanah Sulawesi. Kedua entitas ini membuktikan bahwa budaya kerja yang unggul tidak muncul dari ruang hampa, melainkan dibentuk oleh komitmen manusianya untuk terus memperbaiki diri. Dengan menyerap kedisplinan tata kelola kampus Jepang dan mempertahankan spiritualitas serta ketangguhan lokal, perguruan tinggi di Indonesia memiliki peluang besar untuk terus berkembang di kancah internasional.

Penutup: Jepang dan Kita

Belajar dari budaya kerja perguruan tinggi di Jepang memberikan kita perspektif berharga bahwa keunggulan akademik global berakar pada kedisplinan harian, manajemen riset yang fokus, dan evaluasi berkelanjutan yang tiada henti. Karakteristik institusi di Jepang mengajarkan pentingnya melepaskan ego sektoral demi pencapaian kolektif dan kemajuan ilmu pengetahuan. Nilai-nilai universal ini menjadi cermin penting bagi dunia pendidikan tinggi di Indonesia untuk terus berbenah, meningkatkan efisiensi birokrasi, dan memperkuat relevansi riset demi kemaslahatan masyarakat luas.

Di sisi lain, refleksi atas perjumpaan Muhammadiyah dengan tradisi Bugis-Makassar mempertegas bahwa Indonesia memiliki modal kultural yang luar biasa tangguh untuk membangun peradaban pendidikan yang maju. Ketika nilai lokal seperti Siri’ na Pesse diintegrasikan dengan visi kemajuan yang inklusif, keterbatasan fasilitas dapat diatasi dengan semangat kemandirian dan kerja keras yang tinggi. Sinergi antara adopsi sistem profesionalisme ala Jepang dan optimalisasi karakter luhur bangsa merupakan kunci utama dalam mewujudkan perguruan tinggi yang tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga berakar kuat pada nilai moral dan budaya.

Cite this article as: Ismail Suardi Wekke, "Belajar dari Budaya Kerja Perguruan Tinggi Jepang dan Spiritualitas Kemajuan Pendidikan di Indonesia," in Publikasi Universitas Muhammadiyah Barru, June 27, 2026, https://publikasi.unmuhbarru.ac.id/2026/06/27/belajar-dari-budaya-kerja-perguruan-tinggi-jepang-dan-spiritualitas-kemajuan-pendidikan-di-indonesia/.
Muhammadiyah (ISW)

Perguruan Tinggi Muhammadiyah di Bugis-Makassar: Spirit Keberagamaan Berjumpa dengan Etnisitas

Publikasi.unmuhbarru.ac.id, Barru – Muhammadiyah sebagai gerakan pembaruan Islam (tajdid) telah lama menapakkan kakinya di tanah Sulawesi Selatan, sebuah wilayah yang sarat dengan kekayaan adat dan falsafah hidup suku Bugis-Makassar. Perjumpaan antara spirit keagamaan yang bercorak murni dan dinamis dengan etnisitas lokal yang teguh tidak melahirkan benturan destruktif, melainkan sebuah sintesis kebudayaan yang saling menguatkan. Di tengah ruang kultural inilah, Muhammadiyah hadir bukan untuk mencabut akar tradisi, melainkan memberikan arah yang memajukan melalui jalur dakwah dan sosial-kemasyarakatan.

Salah satu manifestasi paling nyata dari bertemunya dua kekuatan ini adalah menjamurnya Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM) di seantero jazirah Sulawesi Selatan. Dari Makassar di ibukota sampai ke Luwu. Bahkan kabupaten seperti Sinjai, berdiri megah dua perguruan tinggi. Begitu pula di Gowa, sebuah institut yang dikelola Aisyiyah. 

Institusi pendidikan tinggi yang didirikan oleh Muhammadiyah di wilayah ini bukan sekadar ruang transfer ilmu pengetahuan semata, melainkan menjadi laboratorium sosial tempat nilai-nilai Islam berkemajuan berdialog secara intens dengan lokalitas. Lembaga-lembaga ini tumbuh subur di kota hingga pelosok daerah, mencerminkan bagaimana etos kerja dan semangat juang masyarakat setempat menyatu dengan visi pendidikan persyarikatan.

Pendahuluan ini menegaskan bahwa PTM di wilayah Bugis-Makassar mengemban misi ganda yang sangat strategis. Di satu sisi, mereka memikul tanggung jawab akademis dan teologis untuk melahirkan generasi yang murni secara akidah dan unggul secara intelektual. Di sisi lain, mereka menjadi penjaga gawang kebudayaan yang merekonstruksi identitas kebugisan dan kemakassaran agar tetap relevan di era modern, sehingga spirit keagamaan dan karakter etnisitas dapat berjalan beriringan demi kemajuan peradaban.

Perguruan Tinggi Muhammadiyah di Tanah Bugis-Makassar

Perjumpaan awal Muhammadiyah dengan masyarakat Bugis-Makassar didasari oleh adanya titik temu (kalibrasi) antara nilai keislaman dan falsafah hidup lokal. Suku Bugis-Makassar dikenal memegang teguh prinsip Siri’ na Pesse (harga diri dan solidaritas/empati) serta Asituruseng (kerjasama). Ketika Muhammadiyah membawa gagasan tentang kemandirian, amal saleh yang terorganisasi, dan penegakan martabat manusia melalui pendidikan, masyarakat lokal melihat hal tersebut sebagai penguatan terhadap prinsip Siri’ mereka. Islam tidak lagi dipandang sebagai dogma yang berjarak, melainkan energi penggerak yang klop dengan karakter asli mereka yang pemberani dan teguh pendirian.

Dalam perkembangannya, Muhammadiyah melakukan strategi “inkulturasi” yang arif di Sulawesi Selatan. Alih-alih memberangus tradisi lokal secara frontal, para tokoh Muhammadiyah gelombang awal di tanah ini menggunakan pendekatan yang menghargai struktur sosial setempat, termasuk merangkul kaum bangsawan (Arung) dan pemuka adat. Pendekatan ini melunakkan resistensi kultural dan mengubah kecurigaan menjadi penerimaan yang hangat. Tradisi luhur seperti Pangngaderreng (sistem norma adat) yang sejalan dengan akhlak Islam dipertahankan, sementara praktik-praktik yang berbau takhayul dan khurafat dikikis secara perlahan melalui edukasi yang persuasif.

Keberhasilan dialog kultural ini kemudian melahirkan transformasi besar dalam bentuk pendirian institusi pendidikan. Muhammadiyah menyadari bahwa untuk mengakar kuat di tanah Bugis-Makassar, dakwah lisan harus diwujudkan dalam bentuk amal nyata (amal usaha). Maka, mulailah dirintis sekolah-sekolah yang kemudian berevolusi menjadi universitas, institut, dan sekolah tinggi yang tersebar di berbagai daerah, seperti Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar, Unismuh Parepare, Universitas Muhammadiyah Palopo, hingga PTM di Bone, Sinjai, Barru, Palopo, Enrekang, Sidenrang Rappang, dan Bulukumba. Kehadiran kampus-kampus ini menjadi penanda beralihnya pusat peradaban dari pola tradisional ke modern.

Etnisitas Bugis-Makassar yang terkenal dengan etos Passompe (pelaut/perantau) turut mewarnai karakter Perguruan Tinggi Muhammadiyah di wilayah ini. Karakter pengembara yang tangguh, adaptif, dan berani mengambil risiko ini diserap ke dalam iklim akademik kampus. Mahasiswa PTM di Sulawesi Selatan dididik untuk tidak hanya jago di kandang sendiri, tetapi juga memiliki mentalitas global yang siap merantau dan membawa perubahan di mana pun mereka ditempatkan. Nafas Islam berkemajuan yang ditiupkan Muhammadiyah berkelindan erat dengan mentalitas petualang yang pantang menyerah ini.

Lebih jauh lagi, PTM di wilayah Bugis-Makassar berhasil mengintegrasikan nilai kearifan lokal ke dalam kurikulum dan budaya organisasinya. Konsep Tellu Cappa (Tiga Ujung: ujung lidah/diplomasi, ujung keris/keberanian, dan ujung kemaluan/kehormatan) yang legendaris dalam falsafah Bugis dirumuskan kembali dalam bingkai nilai keislaman (AIK/Al-Islam dan Kemuhammadiyahan). Ujung lidah bermutasi menjadi kecakapan intelektual dan komunikasi dakwah, ujung keris menjadi ketegasan dalam menegakkan keadilan, dan ujung kemaluan menjadi komitmen mutlak terhadap integritas moral dan spiritualitas.

Di ranah sosial-ekonomi, Perguruan Tinggi Muhammadiyah di Sulawesi Selatan bertindak sebagai mesin penggerak mobilitas vertikal bagi masyarakat lokal. Melalui akses pendidikan tinggi yang inklusif, anak-anak petani, nelayan, dan pekerja dari berbagai pelosok daerah Bugis-Makassar dapat mengenyam pendidikan berkualitas. Hal ini memutus mata rantai kemiskinan dan mencetak kelas menengah baru yang religius sekaligus profesional. PTM tidak hanya melahirkan sarjana, tetapi juga melahirkan kader-kader bangsa yang memimpin instansi pemerintahan, sektor swasta, dan lembaga sosial.

Secara kultural dan strategis, eksistensi PTM di tanah Bugis-Makassar memperkokoh posisi Sulawesi Selatan sebagai salah satu pilar utama kekuatan Muhammadiyah di kawasan Indonesia Timur. Kampus-kampus ini menjadi pusat pemikiran Islam moderat yang membentengi masyarakat dari arus radikalisme sekaligus sekularisme ekstrem. Melalui sinergi yang apik antara spirit keberagamaan yang inklusif dan identitas etnisitas yang kuat, Perguruan Tinggi Muhammadiyah membuktikan bahwa lokalitas dan modernitas keagamaan bukan dua hal yang harus saling meniadakan, melainkan bisa menari bersama dalam harmoni.

Penutup: Merajut Masa Depan Peradaban yang Berkemajuan dan Berakar Budaya

Sebagai penutup, Perguruan Tinggi Muhammadiyah di tanah Bugis-Makassar adalah potret sukses dari sebuah perkawinan ideologis dan kultural. Spirit keberagamaan Islam berkemajuan yang dibawa oleh Muhammadiyah tidak datang sebagai penjajah kebudayaan, melainkan sebagai kawan dialog yang menyuntikkan energi pembaruan ke dalam tubuh etnisitas lokal. PTM telah berhasil menjadi wadah di mana nilai-nilai luhur Islam dan falsafah hidup Bugis-Makassar dilebur menjadi sebuah kekuatan kolektif yang mampu melahirkan manusia-manusia unggul, berintegritas, dan tangguh menghadapi tantangan zaman.

Menatap masa depan, tantangan PTM di wilayah ini adalah menjaga agar api dialektika antara agama dan budaya ini tidak padam di tengah gempuran globalisasi. Kampus-kampus Muhammadiyah harus terus konsisten merawat nilai kearifan lokal seperti Siri’ na Pesse di dalam etos akademiknya, sembari terus memacu inovasi teknologi dan sains. Dengan tetap berakar pada bumi etnisitas Bugis-Makassar dan menjulang tinggi ke langit spirit keagamaan yang mencerahkan, Perguruan Tinggi Muhammadiyah akan terus menjadi suluh peradaban yang utama di Indonesia Timur.

Cite this article as: Ismail Suardi Wekke, "Perguruan Tinggi Muhammadiyah di Bugis-Makassar: Spirit Keberagamaan Berjumpa dengan Etnisitas," in Publikasi Universitas Muhammadiyah Barru, June 27, 2026, https://publikasi.unmuhbarru.ac.id/2026/06/27/perguruan-tinggi-muhammadiyah-di-bugis-makassar-spirit-keberagamaan-berjumpa-dengan-etnisitas/.
G20 2026 (Unmuh Barru)

The Next G20 2026, Miami: Multilateral Cooperation in the topic Interreligious Understanding

Unmuhbarru.ac.id, Barru – The G20 Summit in Miami, scheduled for December 2026, presents an important opportunity for multilateral cooperation to extend beyond its traditional economic and financial focus. While the G20’s official agenda, organized by the host country, often centers on global economic growth, trade, and financial stability, the associated “Engagement Groups”—like the G20 Interfaith Forum—provide a vital platform to address societal challenges. 

Considering the complexity of global issues, dedicating serious deliberation to Interreligious Understanding within the broader framework of multilateral efforts is essential for fostering stability and cohesion worldwide. This topic will be addressed through civilian participation. The platform among it is IF20.

Focusing on Interreligious Understanding as a topic for multilateral cooperation acknowledges the profound influence of faith-based organizations and religious communities on global affairs, from social development and poverty alleviation to conflict resolution and peacebuilding. The Miami summit, therefore, can serve as a crucial venue for G20 nations to develop and endorse joint strategies that leverage the positive contributions of diverse religious groups. 

This includes promoting interfaith dialogue, supporting educational initiatives that counter prejudice, and ensuring that policies related to economic growth and development are sensitive to cultural and religious diversity, thereby fostering inclusive societies. In addition, there will be university partnerships for that cooperation.

Ultimately, by prioritizing Interreligious Understanding, the G20 2026 can advance a more holistic vision of global governance. Multilateral cooperation on this topic is not merely an exercise in cultural exchange but a strategic necessity. It is about building trust and resilience against forces of division, extremism, and conflict that often have religious dimensions. The discussions in Miami would aim to translate the principles of dialogue and mutual respect into actionable commitments, ensuring that the G20’s pursuit of a prosperous and stable world is firmly anchored in the recognition and celebration of human diversity.

Cite this article as: Ismail Suardi Wekke, "The Next G20 2026, Miami: Multilateral Cooperation in the topic Interreligious Understanding," in Publikasi Universitas Muhammadiyah Barru, September 28, 2025, https://publikasi.unmuhbarru.ac.id/2025/09/28/the-next-g20-2026-miami-multilateral-cooperation-in-the-topic-interreligious-understanding/.
Sulsel (Unmuh Barru)

Muhammadiyah di Sulawesi Selatan: Pilar Pendidikan Islam

Unmuhbarru.ac.id, Barru – Muhammadiyah, sebuah organisasi Islam modernis, telah berpartisipasi dalam sejarah dan perkembangan sosial-keagamaan Indonesia (bahkan mengglobal), dan begitu pula di Sulawesi Selatan. Sejak awal abad ke-20, organisasi ini telah berdiri melalui partisipasi warga, khususnya melalui pendirian lembaga pendidikan yang menjadi pilar utama dakwah dan pembaharuan. Kontribusi Muhammadiyah di wilayah ini tidak terlepas dari peran penting perguruan tinggi Muhammadiyah dan Aisyiyah sebagai pusat-pusat intelektual dan kemajuan.

Muhammadiyah masuk ke Sulawesi Selatan melalui jalur perdagangan dan dakwah. Para saudagar dan ulama yang terinspirasi oleh gerakan K.H. Ahmad Dahlan membawa ide-ide pembaharuan ke Makassar dan kota-kota lain. Mereka mendirikan cabang-cabang Muhammadiyah yang segera fokus pada pendidikan. Pada masa awal, sekolah-sekolah Muhammadiyah menjadi alternatif dari pendidikan tradisional dan kolonial, menawarkan kurikulum yang memadukan ajaran Islam dengan ilmu pengetahuan modern.

Perguruan Tinggi Muhammadiyah: Gerakan Intelektual

Perguruan tinggi Muhammadiyah di Sulawesi Selatan menjadi tonggak utama dalam memperluas jangkauan dan pengaruh organisasi. Institusi-institusi ini tidak hanya mencetak lulusan yang kompeten di berbagai bidang, tetapi juga menjadi pusat kajian Islam dan ilmu pengetahuan. Mereka berperan dalam melahirkan intelektual, profesional, dan pemimpin yang berlandaskan nilai-nilai Muhammadiyah.

Salah satu perguruan tinggi terkemuka adalah Universitas Muhammadiyah Makassar (Unismuh Makassar). Didirikan pada tahun 1963, Unismuh Makassar berkembang menjadi salah satu universitas swasta terbesar di Indonesia Timur. Unismuh menawarkan beragam program studi, mulai dari ilmu sosial, humaniora, hingga sains dan teknologi. Kehadirannya telah memberikan kontribusi signifikan terhadap pembangunan sumber daya manusia di Sulawesi Selatan dan sekitarnya.

Selain Unismuh Makassar, ada beberapa perguruan tinggi Muhammadiyah lainnya yang tersebar di berbagai kabupaten/kota, seperti Universitas Muhammadiyah Parepare dan Universitas Muhammadiyah Palopo. Masing-masing perguruan tinggi ini memiliki peran strategis dalam memenuhi kebutuhan pendidikan lokal dan regional. Mereka tidak hanya menjalankan fungsi akademik, tetapi juga aktif dalam pengabdian kepada masyarakat dan penelitian.

Begitu pula di Barru, dari STKIP Muhammadiyah Barru bertransformasi menjadi Universitas Muhammadiyah Barru. Kini (2025) telah menjejakkan langkah di tahun kedua, menuju tahun ketiga. Dalam perkembangannya, telah mencapai re-akreditasi. Pengembangan Unmuh Barru, juga melangkah sampai ke jenjang global. Dalam perhelatan teraklir, bersama BOLT menggelar Summer School in Japan, Agustus 2025.

Peran Aisyiyah: Memajukan Perempuan

Aisyiyah, organisasi otonom Muhammadiyah yang khusus membina perempuan, memiliki peran yang sama keberadaanya. Aisyiyah di Sulawesi Selatan aktif dalam mendirikan lembaga pendidikan, terutama yang berfokus pada perempuan dan anak-anak. Mereka mengelola berbagai sekolah, mulai dari taman kanak-kanak hingga perguruan tinggi.

Institut Aisyiyah Sulawesi Selatan di Samata (Gowa) adalah salah satu peran Aisyiyah dalam pendidikan tinggi. Institusi ini fokus pada bidang keagamaan (studi Islam), mencetak tenaga-tenaga profesional keagamaan Islam. Keberadaan Institut Aisyiyah menjadi diperlukan dalam meningkatkan kualitas pelayanan keagamaan, terutama dalam menyentuh kalangan perempuan.

Aisyiyah juga mengelola berbagai panti asuhan, rumah sakit, dan lembaga sosial lainnya yang terintegrasi dengan jaringan Muhammadiyah. Melalui berbagai programnya, Aisyiyah memberdayakan perempuan, meningkatkan kesejahteraan keluarga, dan menyebarkan nilai-nilai Islam yang berkemajuan.

Dampak dan Kontribusi

Kehadiran perguruan tinggi Muhammadiyah dan Aisyiyah di Sulawesi Selatan telah memberikan dampak yang luas. Pertama, pendidikan Islam modern menjadi lebih mudah diakses oleh masyarakat. Kedua, mereka telah melahirkan generasi cendekiawan dan profesional yang memiliki integritas dan komitmen sosial. Ketiga, perguruan tinggi ini menjadi agen perubahan yang mendorong pembangunan sosial, ekonomi, dan budaya.

Secara keseluruhan, Muhammadiyah di Sulawesi Selatan tidak hanya dikenal sebagai organisasi keagamaan, tetapi juga sebagai gerakan pendidikan yang kuat. Perguruan tinggi dan lembaga pendidikan lainnya yang didirikan oleh Muhammadiyah dan Aisyiyah menjadi bukti nyata dari komitmen mereka untuk memajukan umat dan bangsa. Mereka terus beradaptasi dengan perkembangan zaman, memastikan bahwa dakwah melalui pendidikan tetap relevan dan berkelanjutan.

Cite this article as: Ismail Suardi Wekke, "Muhammadiyah di Sulawesi Selatan: Pilar Pendidikan Islam," in Publikasi Universitas Muhammadiyah Barru, August 27, 2025, https://publikasi.unmuhbarru.ac.id/2025/08/27/muhammadiyah-di-sulawesi-selatan-pilar-pendidikan-islam/.
Cyber Peace (Unmuh Barru)

Shaping the Future: Pursuit of Peace in The Digital Age

Unmuhbarru.ac.id, Barru – The digital age has undeniably revolutionized the way we communicate, interact, and conduct our lives. While it has brought about numerous advancements and opportunities, it has also presented new challenges to the pursuit of peace. The interconnectedness facilitated by digital technologies has the potential to foster understanding and cooperation, but it can also be exploited to spread misinformation, incite violence, and exacerbate conflicts. Therefore, it is crucial to critically examine the role of digital technologies in shaping the future of peace and explore strategies to harness their potential for positive change.

One of the most significant challenges to peace in the digital age is the proliferation of misinformation and hate speech. Social media platforms and online forums can be easily weaponized to spread false narratives, incite hatred, and manipulate public opinion. This can fuel social divisions, erode trust in institutions, and even lead to real-world violence. The anonymity afforded by the internet can embolden individuals to engage in harmful behavior without fear of accountability. Addressing this issue requires a multi-faceted approach, including media literacy education, fact-checking initiatives, and the development of ethical guidelines for online platforms.

However, digital technologies can also be powerful tools for peacebuilding and conflict resolution. They can facilitate communication and dialogue between conflicting parties, promote cross-cultural understanding, and provide platforms for marginalized voices to be heard. Social media can be used to mobilize peace movements, raise awareness about human rights abuses, and advocate for social justice. Online platforms can also be used to provide education and resources to communities affected by conflict, fostering resilience and promoting reconciliation.

To effectively harness the potential of digital technologies for peace, it is essential to foster digital literacy and critical thinking skills. Individuals need to be equipped with the tools to critically evaluate information they encounter online, identify misinformation, and engage in constructive dialogue. Education systems should incorporate digital literacy into their curricula, and civil society organizations can play a crucial role in providing training and resources to communities.

Furthermore, international cooperation is essential to address the challenges posed by digital technologies to peace. Governments, international organizations, and civil society actors need to work together to develop norms and standards for online behavior, combat cybercrime, and promote responsible use of digital technologies. This includes addressing issues such as data privacy, online surveillance, and the use of artificial intelligence in warfare.

The future of peace in the digital age depends on our ability to navigate the complex landscape of online interactions and harness the potential of digital technologies for good. This requires a concerted effort from individuals, communities, governments, and international organizations to promote digital literacy, foster ethical online behavior, and address the challenges posed by misinformation and hate speech. By working together, we can shape a future where digital technologies contribute to building a more peaceful and just world.

Cite this article as: Ismail Suardi Wekke, "Shaping the Future: Pursuit of Peace in The Digital Age," in Publikasi Universitas Muhammadiyah Barru, February 1, 2025, https://publikasi.unmuhbarru.ac.id/2025/02/01/shaping-the-future-pursuit-of-peace-in-the-digital-age/.
Muslim (Unmuh Barru)

Muslim Society in Southeast Asia: Religious Expression, Diversity, and Institution

Unmuhbarru.ac.id, Barru – Southeast Asia, a region characterized by its vibrant cultural tapestry, is home to a significant portion of the global Muslim population. Islam’s arrival and subsequent spread across the archipelagoes and mainland Southeast Asia has resulted in diverse expressions of faith, interwoven with local customs and traditions. This rich tapestry of Islamic practice reflects the region’s historical context, where trade, Sufi mysticism, and royal conversions played crucial roles in the faith’s dissemination. From the majestic mosques of Indonesia to the unique syncretic traditions of the Philippines, the Muslim communities of Southeast Asia demonstrate the dynamic interplay between global religious beliefs and local cultural norms.

The religious landscape of Southeast Asian Islam is far from monolithic. Different interpretations and practices coexist, ranging from deeply orthodox approaches to more syncretic forms that blend Islamic tenets with pre-existing indigenous beliefs. This diversity is evident in various aspects of religious life, including rituals, festivals, and social customs. For example, the celebration of Maulid, the Prophet Muhammad’s birthday, varies significantly across the region, incorporating local traditions and artistic expressions. Similarly, the influence of Sufism, a mystical branch of Islam, is prominent in many Southeast Asian Muslim communities, contributing to a rich tradition of spiritual practices and philosophical thought.

The development of Islamic institutions has played a vital role in shaping Muslim societies in Southeast Asia. Mosques, madrasas (religious schools), and various religious organizations serve as centers of learning, community gathering, and social welfare. These institutions have contributed to the preservation and transmission of Islamic knowledge, while also adapting to the changing social and political landscapes of the region. Furthermore, they have played a crucial role in fostering a sense of shared identity among diverse Muslim communities.

The role of Islamic scholarship and intellectual discourse has been central to the evolution of Muslim societies in Southeast Asia. Scholars and intellectuals have contributed significantly to the development of Islamic thought in the region, engaging with both classical Islamic texts and contemporary issues. Their works have addressed diverse topics, ranging from theology and jurisprudence to social ethics and contemporary challenges. This intellectual tradition continues to thrive, with contemporary scholars engaging in critical discussions about Islam’s role in modern Southeast Asian societies.

The interaction between Islam and local cultures has resulted in unique artistic and cultural expressions. From intricate architectural designs of mosques to traditional forms of music and dance, Islamic motifs and themes are interwoven with local artistic traditions. This fusion has created a distinctive cultural landscape that reflects the dynamic interplay between religious beliefs and local customs. The use of calligraphy, for example, is a prominent feature in Southeast Asian Islamic art, often incorporated into architecture, textiles, and other art forms.

The observance of religious rituals and festivals plays a significant role in the lives of Southeast Asian Muslims. Ramadan, the month of fasting, is a period of intense religious devotion and community bonding. Eid al-Fitr, marking the end of Ramadan, is celebrated with great enthusiasm and festive gatherings. Other important religious occasions, such as Eid al-Adha and Isra Mi’raj, are also observed with unique local customs and traditions.

The role of women in Southeast Asian Muslim societies is complex and multifaceted. Women have made significant contributions to various aspects of religious life, including education, scholarship, and community leadership. While traditional gender roles still exist in some communities, there is a growing movement towards greater gender equality and empowerment. Women are increasingly active in religious institutions, civil society organizations, and various professions.

The study of Muslim societies in Southeast Asia offers valuable insights into the dynamic relationship between religion, culture, and society. The region’s diverse Islamic traditions demonstrate the adaptability and resilience of Islam in different cultural contexts. Understanding the complexities of Southeast Asian Islam requires acknowledging the region’s rich history, its diverse interpretations of faith, and the ongoing interplay between local and global influences. This understanding is crucial for fostering interfaith dialogue, promoting cultural understanding, and appreciating the richness of human civilization.

Cite this article as: Ismail Suardi Wekke, "Muslim Society in Southeast Asia: Religious Expression, Diversity, and Institution," in Publikasi Universitas Muhammadiyah Barru, January 31, 2025, https://publikasi.unmuhbarru.ac.id/2025/01/31/muslim-society-in-southeast-asia-religious-expression-diversity-and-institution/.
France (Unmuh Barru)

Persiapan Belajar di Negeri Kuliner: Panduan Awal Menuju Prancis

Unmuhbarru.ac.id, Barru – Mimpikan pengalaman belajar di negara yang kaya akan sejarah, budaya, dan kuliner? Prancis, dengan kota-kota ikonik seperti Paris, Lyon, dan Marseille, serta universitas-universitas bergengsi, adalah destinasi yang menarik bagi banyak pelajar internasional. Namun, sebelum mengepak koper, ada beberapa persiapan yang perlu Anda lakukan agar studi di Prancis berjalan lancar.

Mengenal Prancis: Negeri Romantis dengan Segudang Inovasi

Prancis, negeri yang begitu lekat dengan menara Eiffel dan croissant, menyimpan pesona inovasi mendunia. Negara ini telah lama menjadi magnet bagi para wisatawan dari seluruh dunia, tak hanya karena keindahan alam dan bangunan bersejarahnya, tetapi juga karena kekayaan budaya dan sejarah yang begitu mendalam.

Paris, sebagai ibukota Prancis, adalah kota yang tak pernah tidur. Kota ini menawarkan beragam aktivitas mulai dari mengunjungi museum dunia kelas satu seperti Louvre dan Orsay, hingga menjelajahi kawasan Latin yang penuh dengan kafe-kafe kecil yang menawan. Selain Paris, Prancis juga memiliki banyak kota-kota indah lainnya seperti Nice, Marseille, dan Bordeaux, masing-masing dengan karakteristik uniknya.

Sejarah panjang Prancis telah membentuk negara ini menjadi apa adanya saat ini. Dari masa kerajaan hingga revolusi, Prancis telah mengalami berbagai perubahan yang membentuk identitas nasionalnya. Warisan sejarah ini tercermin dalam arsitektur bangunan-bangunan tua, karya seni yang luar biasa, dan tradisi-tradisi yang masih dilestarikan hingga kini.

Budaya Prancis juga sangat kaya dan beragam. Bahasa Prancis, sebagai salah satu bahasa yang paling banyak digunakan di dunia, telah menyebarkan pengaruhnya ke berbagai belahan dunia. Selain itu, Prancis juga terkenal dengan kulinernya yang lezat, seperti keju, anggur, dan roti. Mode Prancis juga diakui sebagai salah satu yang paling bergaya di dunia, dengan Paris sebagai pusat mode dunia.

Prancis adalah negara yang menawarkan pengalaman yang tak terlupakan bagi setiap pengunjungnya. Baik Anda tertarik dengan sejarah, seni, kuliner, atau mode, Prancis pasti akan memuaskan hasrat Anda. Dengan keindahan alamnya yang memukau, sejarahnya yang kaya, dan budayanya yang beragam, Prancis adalah destinasi yang sempurna untuk liburan atau bahkan untuk tinggal.

Selanjutnya, dua hal yang perlu diperhatikan adalah terkait dengan penguasaan bahasa dan juga memilih program studi di perguruan tinggi.

Menguasai Bahasa Prancis

Salah satu kunci keberhasilan belajar di Prancis adalah kemampuan berbahasa Prancis. Meskipun banyak program studi yang ditawarkan dalam bahasa Inggris, menguasai bahasa Prancis akan membuka lebih banyak peluang dan memperkaya pengalaman Anda. Mulailah belajar bahasa Prancis jauh sebelum keberangkatan. Anda bisa mengikuti kursus intensif, bergabung dengan klub percakapan, atau menggunakan aplikasi pembelajaran bahasa secara mandiri.

Memilih Program Studi dan Universitas

Prancis menawarkan beragam program studi di berbagai bidang, mulai dari ilmu sosial, humaniora, hingga teknik. Lakukan riset mendalam tentang program studi yang sesuai dengan minat dan tujuan karier Anda. Pertimbangkan pula reputasi universitas, biaya kuliah, dan fasilitas yang disediakan. Situs resmi Campus France dapat menjadi panduan yang berguna dalam mencari informasi tentang perguruan tinggi di Prancis.

Cite this article as: Ismail Suardi Wekke, "Persiapan Belajar di Negeri Kuliner: Panduan Awal Menuju Prancis," in Publikasi Universitas Muhammadiyah Barru, January 31, 2025, https://publikasi.unmuhbarru.ac.id/2025/01/31/persiapan-belajar-di-negeri-kuliner-panduan-awal-menuju-prancis/.
Alwi Hamu (Unmuh Barru)

Warisan Alwi Hamu Bagi Pendidikan Indonesia

Unmuhbarru.ac.id, Barru – Alwi Hamu, sosok yang dikenal luas sebagai pionir media massa di Indonesia Timur dan juga tokoh pers nasional, juga memiliki kontribusi yang signifikan dalam dunia pendidikan. Meskipun kiprahnya lebih sering dikaitkan dengan jurnalistik dan bisnis media, namun dedikasinya dalam membangun lembaga pendidikan tidak kalah penting. Warisan pendidikan yang ditinggalkannya menjadi bukti nyata bahwa seorang tokoh media juga dapat menjadi pelopor perubahan di bidang pendidikan.

Salah satu kontribusi terbesar Alwi Hamu dalam bidang pendidikan adalah pendirian Universitas Fajar dan Institut Keuangan dan Bisnis Nitro. Universitas dan institut ini dalam konteks perguruan tinggi didirikan dengan visi untuk menghasilkan lulusan yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki jiwa kepemimpinan dan sosial yang tinggi. Melalui Universitas Fajar dan IBK Nitro, Alwi Hamu ingin memberikan akses pendidikan yang lebih luas bagi masyarakat, khususnya di wilayah Indonesia Timur.

Selain mendirikan universitas, Alwi Hamu juga aktif dalam mengembangkan berbagai program pendidikan lainnya, bahkan menjangkau Surabaya dengan nama Politeknik NSC. Ia menyadari pentingnya pendidikan karakter bagi generasi muda, sehingga banyak program yang dirancang untuk menanamkan nilai-nilai moral dan etika kepada mahasiswa. Program-program ini tidak hanya dilaksanakan di lingkungan kampus, tetapi juga melibatkan masyarakat luas.

Sebagai seorang pengusaha sukses, Alwi Hamu juga memberikan perhatian khusus pada pendidikan vokasi. Ia melihat bahwa pendidikan vokasi memiliki peran penting dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan mendukung pertumbuhan ekonomi. Oleh karena itu, ia menginisiasi berbagai program pelatihan dan pengembangan keterampilan yang relevan dengan kebutuhan dunia kerja.

Warisan pendidikan Alwi Hamu tidak hanya dirasakan oleh masyarakat di Sulawesi Selatan, tetapi juga oleh masyarakat Indonesia secara keseluruhan. Tiga perguruan tinggi tersebut dalam naungan Yayasan Pendidikan Fajar telah melahirkan banyak alumni yang sukses berkarier di berbagai bidang, baik di dalam maupun di luar negeri. Alumni-alumni ini tidak hanya menjadi aset bagi bangsa, tetapi juga menjadi inspirasi bagi generasi muda untuk terus belajar dan mengembangkan diri.

Kepemimpinan Alwi Hamu dalam dunia pendidikan menjadi contoh nyata bahwa pendidikan adalah investasi jangka panjang yang sangat penting. Melalui dedikasinya, ia telah membuktikan bahwa pendidikan dapat menjadi alat untuk mengubah hidup individu dan masyarakat. Warisan pendidikan yang ditinggalkannya akan terus menginspirasi generasi penerus untuk terus berkontribusi dalam membangun bangsa.

Dalam konteks pendidikan di Indonesia saat ini, warisan Alwi Hamu masih sangat relevan. Tantangan di bidang pendidikan masih banyak, seperti kesenjangan akses, kualitas pendidikan yang belum merata, dan relevansi pendidikan dengan dunia kerja. Untuk mengatasi tantangan-tantangan tersebut, diperlukan semangat inovasi dan kreativitas seperti yang pernah ditunjukkan oleh Alwi Hamu.

Sebagai penutup, dapat dikatakan bahwa Alwi Hamu tidak hanya seorang tokoh media yang sukses, tetapi juga seorang pendidik yang visioner. Warisan pendidikan yang ditinggalkannya akan terus hidup dan berkembang, memberikan manfaat bagi generasi sekarang dan masa depan.

Cite this article as: Ismail Suardi Wekke, "Warisan Alwi Hamu Bagi Pendidikan Indonesia," in Publikasi Universitas Muhammadiyah Barru, January 18, 2025, https://publikasi.unmuhbarru.ac.id/2025/01/18/warisan-alwi-hamu-bagi-pendidikan-indonesia/.
Student Mobility 2025 (Unmuh Barru)

Mengenal Student Mobility dan SEAAM: Jembatan Menuju Jejaring Asia Tenggara

Unmuhbarru.ac.id, Barru – Pernahkah Anda memerlukan jejaring kerjasama dengan kampus ternama di negara lain? Atau mungkin ingin merasakan perjalanan di budaya yang berbeda? Jika ya, maka Anda tidak sendirian. Semakin banyak mahasiswa yang tertarik untuk mengikuti program student mobility. Apa itu student mobility dan bagaimana kaitannya dengan SEAAM? Mari kita bahas lebih lanjut.

Student mobility adalah program yang memungkinkan mahasiswa untuk belajar di perguruan tinggi lain, baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Program ini bisa berlangsung dalam jangka waktu yang singkat, seperti satu bulan, atau bahkan satu semester. Tujuan utama dari student mobility adalah untuk memperluas wawasan, meningkatkan kemampuan beradaptasi, dan membangun jaringan internasional.

Salah satu organisasi regional yang sangat mendukung program student mobility adalah SEAAM. SEAAM merupakan jejaring untuk kerjasama di Asia Tenggara. Dalam konteks pendidikan, SEAAM memfasilitasi kegiatan mahasiswa antar negara anggota.

Dengan mengikuti program student mobility yang dilaksanakan SEAAM, mahasiswa akan memiliki kesempatan untuk belajar dari berbagai perspektif, berinteraksi dengan mahasiswa dari negara lain, dan meningkatkan kemampuan bahasa asing. Selain itu, mahasiswa juga akan mendapatkan pengalaman tinggal di budaya yang berbeda, yang akan sangat bermanfaat untuk pengembangan diri.

Lalu, apa saja keuntungan mengikuti program student mobility? Pertama, mahasiswa akan mendapatkan pengalaman belajar yang lebih kaya. Mereka akan terpapar pada berbagai metode pembelajaran, kurikulum, dan budaya akademik yang berbeda. Kedua, mahasiswa akan meningkatkan kemampuan bahasa asing. Ketiga, mahasiswa akan membangun jaringan internasional yang luas, yang akan sangat berguna untuk karir mereka di masa depan.

Namun, mengikuti program student mobility juga memiliki tantangan tersendiri. Salah satu tantangan terbesar adalah adaptasi dengan lingkungan baru. Mahasiswa harus menyesuaikan diri dengan budaya yang berbeda, sistem pendidikan yang berbeda, dan bahasa yang berbeda. Selain itu, mahasiswa juga harus menghadapi masalah-masalah seperti homesickness dan kesulitan dalam mengurus administrasi.

Meskipun demikian, keuntungan yang diperoleh dari mengikuti program student mobility jauh lebih besar dibandingkan dengan tantangannya. Oleh karena itu, jika Anda memiliki kesempatan untuk mengikuti program student mobility, jangan ragu untuk memanfaatkannya. Program ini akan memberikan pengalaman yang tak terlupakan dan membuka pintu menuju masa depan yang lebih cerah.

Sebagai penutup, student mobility merupakan program yang sangat bermanfaat bagi mahasiswa yang ingin mengembangkan diri dan memperluas wawasan. Dengan dukungan dari SEAAM, program ini semakin mudah diakses oleh mahasiswa dari berbagai negara di Asia Tenggara.

Cite this article as: Ismail Suardi Wekke, "Mengenal Student Mobility dan SEAAM: Jembatan Menuju Jejaring Asia Tenggara," in Publikasi Universitas Muhammadiyah Barru, January 15, 2025, https://publikasi.unmuhbarru.ac.id/2025/01/15/mengenal-student-mobility-dan-seaam-jembatan-menuju-jejaring-asia-tenggara/.
Jepang (Unmuh Barru)

Lebih dari Sekadar Magang: Transformasi Diri di Tengah Budaya Kerja Jepang

Unmuhbarru.ac.id, Barru – Jepang, negeri sakura yang terkenal dengan disiplin dan etos kerjanya yang tinggi, telah lama menjadi tujuan menarik bagi para pencari pengalaman kerja. Melalui program magang, banyak pemuda-pemudi dari berbagai belahan dunia berkesempatan untuk merasakan langsung bagaimana bekerja di perusahaan-perusahaan Jepang. Namun, pengalaman magang di Jepang ternyata menawarkan lebih dari sekadar kesempatan untuk menambah daftar riwayat hidup.

Budaya kerja Jepang, yang seringkali digambarkan sebagai sangat kompetitif dan menuntut, ternyata juga menyimpan banyak nilai-nilai positif yang dapat membentuk karakter seseorang. Konsep *kaizen* (perbaikan terus-menerus), *teamwork* (kerja sama tim), dan *seishin* (semangat) adalah beberapa contoh nilai-nilai yang sangat dihargai dalam dunia kerja Jepang. Melalui program magang, peserta akan diajak untuk mengadopsi nilai-nilai tersebut dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Salah satu hal yang paling mencolok dari budaya kerja Jepang adalah penekanan pada detail dan kualitas. Pekerja Jepang sangat memperhatikan setiap aspek pekerjaan mereka, dari yang paling besar hingga yang paling kecil. Hal ini menuntut mereka untuk memiliki tingkat ketelitian dan ketekunan yang tinggi. Bagi peserta magang, ini adalah kesempatan emas untuk mengembangkan keterampilan-keterampilan tersebut.

Selain itu, budaya kerja Jepang juga sangat menghargai hierarki dan rasa hormat. Peserta magang akan belajar untuk menghormati atasan mereka dan rekan kerja yang lebih senior. Mereka juga akan diajarkan untuk berkomunikasi secara efektif dan membangun hubungan yang baik dengan orang-orang di sekitar mereka. Keterampilan-keterampilan ini sangat berguna dalam kehidupan profesional maupun pribadi.

Program magang di Jepang juga seringkali melibatkan kegiatan di luar jam kerja. Peserta magang akan diajak untuk mengikuti berbagai acara sosial dan budaya, seperti mengunjungi kuil, mengikuti kelas kaligrafi, atau bahkan mengikuti festival tradisional. Kegiatan-kegiatan ini tidak hanya menyenangkan, tetapi juga memberikan kesempatan bagi peserta magang untuk lebih memahami budaya Jepang dan berinteraksi dengan masyarakat setempat.

Pengalaman magang di Jepang tidak hanya memberikan manfaat bagi peserta magang, tetapi juga bagi perusahaan yang menerima mereka. Peserta magang dapat membawa ide-ide segar dan perspektif baru ke dalam perusahaan. Selain itu, mereka juga dapat membantu perusahaan dalam meningkatkan produktivitas dan efisiensi kerja.

Bagi banyak peserta magang, pengalaman di Jepang merupakan titik balik dalam hidup mereka. Mereka kembali ke negara asal dengan membawa pengetahuan dan keterampilan baru, serta pandangan hidup yang lebih luas. Pengalaman magang di Jepang telah membantu mereka untuk tumbuh sebagai individu yang lebih mandiri, bertanggung jawab, dan berorientasi pada tujuan.

Dalam kesimpulannya, pengalaman magang di Jepang menawarkan lebih dari sekadar kesempatan untuk bekerja. Ini adalah sebuah perjalanan transformasi diri yang dapat mengubah hidup seseorang. Bagi mereka yang ingin mengembangkan diri dan meraih kesuksesan dalam karir, program magang di Jepang adalah pilihan yang sangat menarik.

Cite this article as: Ismail Suardi Wekke, "Lebih dari Sekadar Magang: Transformasi Diri di Tengah Budaya Kerja Jepang," in Publikasi Universitas Muhammadiyah Barru, January 15, 2025, https://publikasi.unmuhbarru.ac.id/2025/01/15/lebih-dari-sekadar-magang-transformasi-diri-di-tengah-budaya-kerja-jepang/.